Cerita Kule

Kenapa Pilih Jurusan Bahasa Indonesia?

Published

on

Dari awal jadi baru (maba) di tahun 2018, setiap ketemu orang pasti ditanya “Kuliahnya ambil apa?” atau “Kuliah apa?” atau pertanyaan sejenisnya yang merujuk pada .

Dan ya tentunya saya tidak mengada-ngada, saya jawab “Jurusan di Untirta.” (Untirta: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa).

Pasca menjawab atau menyebutkan nama jurusan, beragam respon pun didapat. Ada yang merespon dengan baik dan didampingi dengan motivasi, tapi ada juga yang merespon dengan sedikit merendahkan.

Komentar sedikit miring yang masih diingat kurang lebih seperti ini “Kenapa masuk ? Kenapa ga jurusan lain aja?” atau “Kamunya ga bisa tah apa gimana?” atau “Kan kamu tinggal di Indonesia, kenapa ngambil jurusan itu dah?”

Baca Juga:  Tenang, Kamu Ga Sendiri Kok

Kurang lebih seperti itulah respon dari mereka yang pernah bertanya. Ya anggap saja itu wajar karena ketidaktahuan mereka terkait jurusan Bahasa Indonesia, yang mereka kira hanya membahas soal dialog sehari-hari saja. Padahal tidak begitu loh…

Tapi, mari kita abaikan komentar orang terkait jurusan yang kita pilih. Anggap saja mereka berkomentar hanya karena iseng atau buta dengan prospek dari jurusan yang kita ambil.

Sedikit bercerita, kilas balik pada masa sekolah dulu. Saya menyadari kenapa saya bisa masuk jurusan Bahasa Indonesia.

Pertama, sewaktu duduk di Sekolah Dasar (SD) kelas 2, saya memiliki guru yang sangat amat baik. Saat itu sedang pelajaran Bahasa Indonesia, dan saat itu saya iseng berdo’a sama Allah “Ya Allah nanti kalau udah gede mau jadi guru Bahasa Indonesia aja.” Begitulah do’a dalam hati anak SD kala itu.

Baca Juga:  Islam dan Problematika Kesehatan Manusia

Kedua, menginjak masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya sangat dekat dengan guru Bahasa Indonesia saya, bahkan bisa dibilang saya adalah tangan kanannya. Bahkan saya pernah meraih nilai tertinggi satu angkatan saat ulangan, lalu makalah kelompok saya waktu itu juga pernah meraih nilai tertinggi di angkatan (bukan sombong, tapi realita wkwk).

Ketiga, sewaktu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya juga dekat dengan guru Bahasa Indonesia saya.

Halaman SebelumnyaHalaman 1 dari 3 Halaman

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending