Kabar

Dua Warga Tumbang Akibat DBD, Dinkes Kota Serang Enggan Fogging, Alasan Biaya Mahal

Published

on

SERANG, suarahimpunan.com – Penyakit demam berdarah (DBD) kembali menjangkit beberapa warga di Kota Serang. Kali ini yang menjadi korban adalah seorang ibu dan anak warga Komplek Depag, Kelurahan Cipocok Jaya, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.

Muflikhah, salah satu warga di daerah tersebut mengatakan bahwa dua orang keluarganya terdiagnosis demam berdarah dan kini sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Serang.

“Iyah ibu dan adik terkena demam berdarah. Saat ini sudah dirawat di Rumah Sakit Kencana. Sudah dua hari dirawat di sini,” tulisnya ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp, Rabu (26/1).

Ia mengatakan bahwa mulanya, ibu dan adiknya hanya dirawat di rumah saja. Namun karena gejala sakitnya terlihat semakin parah, sehingga keduanya pun dilarikan ke RS Kencana.

“Hari Senin kemarin baru dibawa ke Kencana. Mulai sakitnya mah dari hari Sabtu kemarin. Awalnya ibu, terus adik. Kalau ibu mulai sakit saat nginep di Cibebek, kalau adik tiba-tiba aja sakit waktu di rumah Depag,” katanya.

Adanya kasus tersebut membuat masyarakat resah, dan meminta agar Pemerintah Kota Serang melakukan fogging, sebagai upaya membasmi nyamuk penyebab demam berdarah.

Baca Juga:  Bupati Pandeglang Umpat Kadispora, Sebut Tolol dan Coreng Nama Baik, Inspektorat Akan Audit Kegiatan

Tidak terkecuali muflikhah, ia juga meminta agar Pemkot Serang segera melakukan tindakan fogging. Sebab dikhawatirkan warga lainnya turut terkena penyakit demam berdarah seperti ibu dan juga adiknya.

“Soalnya keponakan hari ini katanya juga tiba-tiba demam. Khawatirnya demam berdarah juga. Makanya kami harap dilakukan penyemprotan, khawatir makin banyak korbannya,” ujar Muflikhah.

Kepala Dinkes Kota Serang, Hasanudin, mengatakan bahwa pihaknya enggan melakukan penyemprotan atau fogging dengan alasan biaya mahal dan polusi.

Baca Juga:  Paripurna Kota Serang Diseruduk Mahasiswa, Perjuangkan Kesejahteraan Guru Non PNS

“Karena kalau dilakukan pengasapan (fogging) itu pertama biaya mahal, kedua polusi. Kemudian ya harus PSN. Lalu melakukan 3M, menguras, menutup, mengubur. Imbauan saya seperti itu lah kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, belum tentu juga warga yang sedang dirawat tersebut merupakan pasien demam berdarah. Sebab harus dilakukan pengecekan terlebih dahulu oleh tim survailans Dinkes Kota Serang.

“Diasap itu bilamana positif itu benar-benar DBD. Lalu petugas kami akan melakukan survailans untuk mengecek apakah benar ada jentik nyamuk. Maka dilakukan pengasapan. Namun ada yang lebih murah, yaitu PSN,” ungkapnya.

Padahal ia mengakui bahwa pada Januari tahun ini, kasus warga terkena DBD lebih banyak dibandingkan Januari tahun lalu.

“Januari tahun lalu dengan Januari tahun sekarang, lebih banyak tahun ini,” pungkasnya. (RRN)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagi Trending