Kabar Himpunan

Formateur HMI Komisariat UIN “SMH” Banten Kritik Hasil Penelitian LIPI

Published

on

SERANG, SuaraHimpunan.ga – Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendapatkan kritik keras dari organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat UIN “SMH” Banten. Mereka berpendapat bahwa penelitian tersebut terkesan tendensius terhadap Islam.



Saat dihubungi melalui media sosial, Formateur HMI Komisariat UIN “SMH” Banten Hairul Azizi mengatakan bahwa penyematan kata Intoleran terhadap Banten karena masyarakat ingin mengembalikan identitas Banten sebagai daerah muslim tidak masuk akal. Menurutnya, hal tersebut merupakan satu hal yang lumrah karena jika dilihat dari sejarahnya, Banten merupakan salah satu kerajaan Islam yang cukup besar di Nusantara.

“Keinginan untuk mengembalikan Banten sebagai daerah Muslim bukan hanya keinginan elit atau kelompok tertentu, melainkan keinginan mayoritas masyarakat. Karena secara historis, Banten ini memang daerah dengan identitas muslim,” ujarnya.

Namun ia menegaskan bahwa menjadi daerah yang beridentitaskan muslim bukan berarti orang non-Muslim tidak boleh hidup didalamnya. Ia berkata bahwa cara pandang seperti itu merupakan cara pandang yang salah. Karena Islam sangat menjunjung tinggi toleransi.

Baca juga : LIPI Sebut Banten Tinggi Intoleran

Ia juga mengkritisi metode penelitian yang dilakukan oleh LIPI. Dalam presentasinya, dijelaskan informasi berkaitan dengan penelitian metode kuantitatif. Namun, metode kualitatif tidak dijabarkan sama sekali bagaimana pengambilan datanya.

“Data kuantitatifnya sudah bagus, dalam penjabarannya sangat detail. Namun data metode kualitatifnya patut dipertanyakan. Karena tidak ada sama sekali informasi yang disediakan oleh LIPI. Bagaimana pengambilan sampelnya, dan lain sebagainya,” terangnya.

Menurut Hairul, seharusnya lembaga seperti LIPI lebih mendetail dalam menjabarkan suatu penelitian, sehingga tidak timbul persepsi buruk dari masyarakat terhadap hasil yang dipresentasikan.

“Kalau datanya tidak jelas, nanti masyarakat bisa berfikiran buruk. Atau jangan-jangan hasil penelitian kualitatifnya memang merupakan opini dari LIPI sendiri?” tutupnya.

Sebelumnya, LIPI telah mempresentasikan hasil penelitian berkaitan dengan Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia. Dijabarkan, terdapat 9 provinsi yang termasuk daerah paling intoleran. Salah satunya adalah Banten.

Hasil penelitian juga menggambarkan bahwa terdapat indikasi politik identitas yang cukup tinggi di daerah Banten.

“Politik identitas yang terjadi di Banten merupakan residu dari pemekaran Provinsi Banten,” ujar peneliti LIPI, Saiful Hakam saat mempresentasikan hasil penelitian di salah satu hotel , Jumat 23 November 2018.

Saiful menjelaskan, elite Banten saat ini sedang berusaha membangun kembali identitas Banten sebagai wilayah Muslim. Hal tersebut menurutnya, menjadi salah satu faktor intoleransi di wilayah Banten. (Dzh)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending