Kabar Nasional

Payahnya Penanganan Pandemi Dinilai Imbas Dari Buruknya Leadership Jokowi

Published

on

“Mekanismenya memang sentralistik, karena keadaannya darurat maka sistem komandonya pun harus berjalan. Jadi keberhasilan penanganan darurat pandemi ditentukan oleh pemimpin tertinggi, yaitu presiden,” katanya. Selanjutnya, ia mengatakan jika problem yang terjadi adalah pada leadership Presiden, yang mana semua hal diurus oleh anak buahnya yakni para menteri seperti Luhut Panjaitan, Erlangga, dan lain-lain. “Pemimpin seperti ini, dalam tanda kutip seperti melepaskan tanggung jawab sentral dalam situasi darurat,” ujarnya dalam diskusi virtual itu. Di samping itu, ia juga mengatakan banyak narasi dari buzzer yang mengatakan bahwa rakyat tidak disiplin, rakyat individualistis, dan rakyat tidak peduli. Semua ini terkesan menyalahkan rakyat.
Baca Juga:  Kasus Napi Kabur Berulang, PB HMI MPO Minta Kalapas Kelas I Tangerang Lakukan Evaluasi
“Narasi-narasi yang dikatakan buzzer itu sangat berbahaya. Pada kenyataannya, dari tahun lalu, rakyat sudah banyak berkorban. Mulai dari di PHK, mengurangi jam kerja, kesulitan mencari uang namun tetap membantu tetangganya yang kena ,” tuturnya. Ubaidillah menyampaikan bahwa pada saat ini, pemerintah lah yang harus berterima kasih kepada masyarakat. Sebab pada kondisi penanganan yang karut marut ini, masyarakat masih bisa bersabar dan tidak ‘ngamuk’.
Baca Juga:  Akun WA Kembali Setelah Diretas, Affandi Ismail: Demi Keamanan, Saya Berencana Ganti Nomor
“Kalau dalam tradisi Jawa, ada yang namanya ‘amuk’. Dalam Melayu dan politik Nusantara ada juga diksi ‘ngamuk’. Namun ‘amuk’ itu belum terjadi sampai saat ini, jelas itu karena solidaritas rakyat. Bahkan jika tidak ada solidaritas rakyat dalam negara ini, sudah pasti negara bangkrut. Jadi yang membantu keadaan Indonesia sampai saat ini adalah rakyat yang peduli,” jelasnya.

Lagi Trending