Kabar Regional

Tak Indahkan Aspek Arkeologis, Banten Lama Hanya Bernilai Instagramable

Published

on

Serang, suarahimpunan.com – Revitalisasi kawasan nyatanya menyisakan polemik. Hal tersebut dikarenakan dalam melakukan revitalisasi, tidak mengindahkan aspek arkeologis. Selain itu, kegiatan revitalisasi tersebut seakan dilakukan dengan tidak serius. Sebab, banyak bangunan yang telah direvitalisasi, sudah mulai terlihat rusak. Berdasarkan penelusuran Kru LAPMI Serang, setidaknya terdapat beberapa bangunan yang sudah terlihat rusak, seperti tempat duduk melingkar yang lantainya sudah mulai pecah, keramik yang tidak berisi semen, dan cat yang mulai memudar.
Baca Juga:  Meneladani Orator Ulung, Raja Jawa Tanpa Mahkota: H.O.S. Tjokroaminoto
Selain itu, banyak dari keran di tempat wudhu wanita, ternyata tidak mengalirkan air. Belum lagi dari segi pengamanan, masih sangat minim. Terlihat, meskipun sudah diperingatkan berkali-kali melalui pengeras suara, masih banyak pengunjung yang menggunakan alas kaki, dan merokok di area Masjid. Akademisi Universitas Indonesia (UI), Chaidir Ashari, menuturkan bahwa dalam melakukan revitalisasi cagar budaya, diharuskan adanya kajian arkeologis terlebih dahulu. Hal tersebut, lanjutnya, menjadi penting karena berkaitan dengan sejarah masa lalu, dan bukti peninggalannya.
Baca Juga:  HMI MPO : Pasca Adakan Latihan Kader 1, Siap Kawal Pembangunan Serang-Lebak
“Oleh karena itu, revitalisasi yg ada tidak bisa dilakukan sembarangan. Itu yg harusnya menjadi Pekerjaa Rumah untuk para stakeholder yang terkait. Begitu pula apa yg dilakukan terhadap Kawasan ,” ujarnya yang juga merupakan dosen Program Studi Arkeologi UI kepada Kru LAPMI Serang, Minggu (7/7). Menurutnya, jika pemerintah hanya mengejar sisi estetika saja, yang tersisa dalam cagar budaya tersebut, hanyalah titik foto yang baik untuk media sosial, tidak menyisakan sisi edukatif.
Halaman SebelumnyaHalaman 1 dari 3 Halaman

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending