Kritik

Menolak ‘Arahan Kanda’

Published

on

 

Ketika mendengar ‘arahan ’ yang terlintas dalam pikiran kader adalah untuk diberikan arahan oleh kakanda yang notabene adalah seniornya. Biasanya ujaran ini digunakan untuk meminta pendapat mengenai arah lajunya organisasi. Tapi apakah akan dan harus selalu dituruti begitu saja?

Mendekati , keterlibatan senior-senior (dirasa atau tidak) justru lebih mendominasi. Bahkan dalam beberapa kalangan, ‘arahan ’ menjadi restu dan instruksi yang wajib dilakoni.

Menurut pendapat saya pribadi yang notabene masih baru tergabung dalam , ‘arahan ’ ini diperlukan hanya sebatas masukan sebelum kita memihak pada salah satu keputusan. ‘Arahan ’ bukanlah suatu fatwa yang harus dijalankan, jadi tentu kita bisa dan memiliki hak untuk menolak.

Bukannya tak menghargai, tapi saat ini sudah beda era. Padahal ‘’ yang kami butuhkan untuk menjadi penyeimbang sebelum kami memutuskan perkara yang berdampak luas.

Baca Juga:  Perlakuan Hukum Abu Janda dengan Habib Bahar Berbeda, Ketum PB HMI MPO: Tuhan Akan Mengadili Kalian

Dalam pandangan saya, bukan rahasia umum lagi, saat masuk dalam agenda pemilihan ketua, biasanya banyak yang menekan bahkan menuntut delegasi untuk berpihak pada masukan berkedok ‘arahan Kanda’.

Terkait hasil Pleno yang di dalamnya dibahas hal-hal fundamental, biarlah kami timbang berdasarkan plus dan minusnya yang kami rasa dan lihat. Kami paham, bahwa Kanda ingin yang terbaik untuk kami, tapi tidak dengan memaksakan kehendak.

Baca Juga:  World Book Day, Aktivis HMI Cabang Yogyakarta Terbitkan Buku

Dalam kepengurusan baik di ranah komisariat, cabang, dan pengurus besar, biarlah kita buat ciri khas dan dinamika tersendiri. Dinamika terdahulu, tentu akan berbeda dengan dinamika sekarang.

Bukannya tak ingin mendapat arahan, kami ingin Kakanda tetap mendukung dan mengawal kami tanpa mengharuskan kami melakukan A B C D sampai Z sesuai keinginan Kanda.

Halaman SebelumnyaHalaman 1 dari 2 Halaman

Lagi Trending