Literatur

Ada Udang di Balik Bakwan

Published

on

Contohnya saja begini: Saat kita sakit, lalu pergi ke dokter untuk berobat, setelah itu pasti dokter akan memberikan resep obat yang harus kita minum. Kita tidak mungkin mengatakan, bahwa karena obat itu mahal dan juga rasanya pahit. Lantas menuntut untuk tidak meminum obat supaya uang untuk membeli obat dialokasikan untuk kebutuhan lain. Ahli punya pengetahuan yang matang, khususnya dokter spesialis, bahwa untuk bisa sembuh harus mengonsumsi obat.  Dan bagi masyarakat yang tidak memiliki uang, bukan berarti harus menuntut untuk berhenti atau tidak membeli obat, akan tetapi menuntut agar negara hadir dan menyediakan layanan kesehatan gratis bagi rakyatnya, seperti itulah logikanya. Jadi, kalau ada orang yang menuntut PPKM dihentikan dengan alasan banyak warga menderita, kelaparan, kesulitan mencari nafkah disaat yang sama seakan juga menyatakan:
Baca Juga:  Lestarikan Budaya Literasi
 “Udah gak apa-apa mereka meninggal dunia karena corona, yang penting ekonomi tetap jalan.” Bukankah cara berpikir seperti itu tidak jauh berbeda dengan cara berpikir elit? Mestinya, jika serius berada di belakang rakyat, buatlah surat terbuka dan menuntut pemerintah agar memenuhi dan atau menjamin kebutuhan hidup rakyatnya agar mereka tetap di rumah. Karena bagaimana mungkin ini berjalan efektif kalau kebutuhan hidup dasar rakyat tidak dipenuhi.
Baca Juga:  Latah Berjudi Saat HARBOLNAS
Kalo kita merujuk pada sejarah tentang pengaruh wabah Black Death di masa Utsmaniyah. Dalam tulisan Cambridge yang berjudul “The Black Death and The Rise of The Ottomans” dapat ditemukan sebuah pernyataan menarik:

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending