Literatur

Angin Tidak Berhembus Untuk Menggoyangkan Pepohonan, Melainkan Menguji Kekuatan Akarnya

Published

on

Oleh: Kanda Irkham Magfuri Jamas, Ketua Umum Komisariat Untirta Pakupatan

Setiap manusia memiliki masalah dan keluhan, setiap jiwa memiliki kehendak dan setiap raga memiliki hasrat masing-masing. Hidup di Dunia memanglah penuh derita. Tetapi, dalam setiap derita selalu ada tawa. R.A Kartini berkata, “Habis gelap terbitlah terang”. Pernyataan tersebut mungkin bisa menjadi motivasi bagi kita semua.

Tiap ujian selalu ada hasil dan tujuan, ada yang hasilnya memuaskan dan tak sedikit juga mengalami kegagalan. Tujuan ujian tentu untuk mempersiapkan kelayakan.

Pantaskah Fulan naik tingkat? Atau justru harus tinggal kelas, atau mungkin pada beberapa kasus perlu turun kelas? Itulah ujian. Baik di Kelas maupun di Dunia nyata, mereka punya esensi yang sama.

Allah SWT berfirman pada surat Az-Zariyat: 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. 51:56).

Ayat tersebut menerangkan bahwasannya kita sebagai umat manusia memiliki tugas tunggal yaitu beribadah kepada Allah SWT. Ibadah dapat dimaknai dengan kalimat sabar, ikhlas, tawakal, iman, taat, tunduk dan patuh terhadap apapun yang Allah kehendaki. Sehingga muncullah kesadaran diri bahwa, “Hamba adalah manusia biasa, dan hamba sandarkan segala urusan pada yang maha perkasa, dzat pemilik alam semesta.”

Tapi sayang seribu sayang, banyak dari golongan manusia lahir, kemudian tumbuh menjadi makhluk yang tak tahu diri. Bagai kacang lupa pada kulitnya mereka menjadi congkak dan lupa pada penciptanya. Tak henti-hentinya mereka menghardik Tuhan yang telah menciptakannya, hanya karena ujian yang diberikan berupa kehilangan harta benda atau orang yang disayang. Padahal jika dihitung-hitung, apa yang Allah ambil hanyalah sebagian kecil dari beribu nikmat yang telah Allah beri.

Baca Juga:  Pleno III Selesai, HMI MPO Cabang Serang Siap Estafet Kepemimpinan

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. 16 : 18).

Mereka lupa, buta, tuli dan bisu isi hatinya. Sehingga mereka jauh dari jalan kebenaran dan jalan petunjuk.

Mari kita merenung untuk setiap ujian yang kita hadapi kawan, manakah yang besar penderitaan kita dengan penderitaan Nabi Adam A.s dan Hawa? yang tinggal di syurga dengan segala kenikmatannya kemudian diturunkan ke bumi dengan segala ujian didalamnya. Atau nabi Nuh? yang harus kehilangan keluarga langsung di depan matanya, tenggelam tersapu banjir besar beserta banyak dari kaumnya.

Pernahkah kita melihat/mengalami cobaan serupa Nabi Ibrohim A.s? yang diikat pada tiang untuk dibakar hidup-hidup karena menyeru pada kebaikan. Kemudian diminta menyembelih anak yang dinanti-nantinya. Pernahkah hadir pada hidup kalian ujian seperti itu?

Anak dan bapak yang dipisahkan jauh, tanpa dapat bertemu baik tatap muka ataupun melalui suara. Seperti kisah Nabi Yaqub A.s dan Nabi Yusuf A.s.

Yusuf A.s yang dicampakkan saudaranya, dibuang kedalam sumur kemudian dijadikan budak. Tak usai sampai disana, ia difitnah habis-habisan ditempat ia mengabdikan diri. Kemudian dipenjara, dipersekusi terhadap tindakan yang tidak ia lakukan.

Ingat pula kisah Nabi Ayub A.s yang kaya raya, banyak keturunannya kemudian ditimpa ujian penyakit kulit dari ujung kepala hingga kakinya, kehilangan seluruh anaknya, kehilangan seluruh harta benda, hewan ternak dan juga ditinggal pergi istrinya. Sebatang kara, tak ada kawan, tak ada teman.

Baca Juga:  Bahaya Pergaulan Bebas di Kalangan Remaja

Begitu pun nabi yang lainnya dengan segenap ujian dan kisah yang melekat padanya. Tak terkecuali penderitaan yang dialami baginda Nabi Muhammad SAW.

Pernahkah mereka hilang iman pada tuhannya?                                     

Tidak, karena mereka yakin dan percaya bahwa Tuhan yang telah menghendaki segalanya. Sehingga perjuangan dan pengorbanan selalu didasarkan pada keikhlasan, yang kemudian disusul oleh kemenangan.

Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan, kesuksesan tanpa penderitaan, dan kenikmatan tanpa bersusah payah, kawan. Semangatlah pada setiap ujian, karena takkan ada masalah tanpa . Semangatlah dalam mengemban penderitaan, karena tak ada penderitaan yang diberikan melebihi beban dan kesanggupan diri.

Bersabaralah dan solatlah, karena dengan dengan keduanya kita akan lebih dekat pada pertolongan.

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

“Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’” (QS. 2:45)

Sebagai kalimat penutup, penulis hadirkan kutipan kalimat penuh makna dari sahabat mulia Ali bin Abi tholib R.a

“Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya derita.”

Referensi :

Qur’an (QS. Al-Baqoroh : 18, 45, 156, 264. / QS. An-Nahl : 18 / QS. Az-Zariyat : 56 / Al-Ma’arij : 19-25 / Al-Insyiroh : 1-8)

Habis Gelap Terbitlah Terang, RA. Karitini

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka

Al – Mahfudzot.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending