Literatur

Generasi Z, Agen Perubahan Lingkungan Hidup

Published

on

Oleh: Kanda Walinegara, Kader HMI MPO Komisariat Persiapan Unbaja

Saya baru memerhatikan masalah lingkungan hidup ketika diberi kesempatan tinggal di Kota Serang, Provinsi Banten, pada periode tahun 2002 – sekarang. Saya yang tidak pernah memilah sampah kering dan basah sebelumnya, pada awalnya, dibuat repot dengan ketentuan negara yang mengharuskan sampah dipisahkan. Tidak tanggung-tanggung, ada plastik khusus berwarna kuning yang wajib dipakai untuk sampah kering. Secara berkala, plastik kuning ini kami ambil dari kantor pemerintah kota. Jatah setiap pengambilan adalah dua gulung. Seingat saya, dua gulungan itu habis sebulan untuk sampah di keluarga. Sampah karton dan kertas ada tempat lagi yang berbeda.

Karena sudah ketentuan wajib, saya pun mengedukasi kepada keponakan untuk lakukan hal ini. Keponakan yang sudah sekolah sangat terbantu dengan kebiasaan guru dan temannya. Buat saya juga tak terlalu sulit. Dengan memberi sedikit lahan di bawah tempat cuci piring, jadilah plastik kuning dan semua sampah kertas dikumpulkan sampai akhirnya sekitar dua sampai tiga hari sekali dibuang di tempat sampah apartemen, yang tentunya ada baknya masing-masing.

Pindah dari Bandung, saya berusaha tetap menjaga kebiasaan baik ini. Semua sampah tetap saya pisahkan, minimal kering dan basah, tetapi sayangnya, tempat buangan akhirnya menjadi satu. Tak lain sebabnya adalah tidak tersedia tempat buangan akhir berbeda seperti seharusnya. Bahkan kemudian, tampak semangat memilah sampah pun masih kurang di Indonesia.

Memang sudah ada gerakan memisahkan sampah dengan menempatkan tempat sampah untuk jenis sampah berbeda, tetapi sayangnya, belum semua orang sadar dan membuang di tempat seharusnya. Bahkan, keluarga terdekat kami pun belum terbiasa. Eyang masih suka salah membuang sampahnya ke tong berbeda ketika main ke rumah kami. Kadang saya pun jadi dibuatnya gemas.

Tapi saya sadar, orang-orang yang seusia saya dan di bawah adalah bagian dari agen perubahan ke arah kebaikan. Edukasi ketika saya kecil hanya cukup sampai membuang sampah pada tempatnya. Saya pikir hal ini berhasil, meski masih ada juga sih, yang tetap bandel buang sampah dari jendela mobil. Namun, edukasi generasi Z dan ke bawah harus berbeda. Mereka tak cukup hanya kebiasaan buang sampahnya, tetapi bagaimana cara sampah itu dipilah, dikurangi, dipakai kembali, sampai daur ulang. Mereka harus terbiasa dan paham. Siapa yang harus mendidik dan membiasakan cara ini? Kita sebagai orang tua mereka.

Sebagai pendidik, tentu kita harus memberi contoh, biasakan, dan konsisten. Bagian terakhir yang paling sulit, tetapi bukan tak mungkin. Yang diperlukan hanya mau bergerak mulai dari sekarang. Minimal kita tak lagi minta kantong plastik saat belanja, bawa sedotan sendiri ketika makan di restoran, atau memakai kertas bolak-balik untuk belajar anak. Masih banyak yang lain, yuk bagikan di kolom komentar.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tahun ini sudah diperingati pada tanggal 5 Juni 2021 kemarin. Bicara lingkungan hidup ada banyak lini, kompleks sekali masalahnya, tidak hanya sampah. Coba ingat-ingat, pernahkan Anda memakan sup sirip ikan hiu? Berapa populasinya di dunia sekarang? Apakah tak bisa konsumsi yang lainnya? 

Atau mungkin ada yang punya tas bermerek terkenal dari kulit buaya. Semakin mahal sayangnya malah jadi naik pamornya. Itulah mengapa tetap saja yang mampu akan mencari dan memilikinya. Ketika sudah sadar untuk kurangi konsumsi ini, maka kepedulian kita pun bisa jadi langkah awal cinta lingkungan hidup.

Mungkin saat ini saya tidak muluk-muluk. Saya percaya, setiap langkah kecil akan berguna. Lakukan sebisa kita dulu, daripada diam saja dan tidak berbuat apa-apa.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagi Trending