Literatur

Konsep Meraih Kebahagiaan Menurut Chuang Tzu

Published

on


Oleh: Munawaroh (191310001) Mahasiswa Aqidah dan Filsafat (AFI)/5

adalah suatu kondisi dimana jiwa mempunyai emosi yang baik terhadap kepuasan hidup, ingatan dan perasaan atau lebih simpelnya ketentraman lahir batin yang dirasakan seseorang.

Ada begitu banyak pandangan dan pendapat mengenai , mulai dari para filsuf, tokoh terkenal, pemuka agama, hingga para motivator, sebagai contoh pandangan dari filsuf terkenal Yunani yakni Sokrates, dimana ia berpendapat bahwa ‘budi ialah tahu’. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik.

Jalan menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup. Tujuan etik baginya adalah untuk mencapai atau kesenangan hidup.  Setiap manusia menghendaki kehidupan yang bahagia. Tidak ada satupun manusia yang ingin hidup susah, gelisah, dan tidak merasakan ketentraman. Akan tetapi setiap manusia memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda dalam mengukur .

Karena yang paling memengaruhi seseorang dalam mengukur kebahagiaan adalah prinsip dan pandangan hidup yang dipijakinya. Dalam Al-Qur’an pun begitu banyak ayat-ayat yang memang menjelaskan tentang kebahagiaan tak heran jika manusia semuanya ingin mendapatkan kebahagiaan Allah SWT Berfirman dalam Q.S Al-Qhasas [28]:77.

Baca Juga:  Pencarian Identitas Diri sebagai Tugas Perkembangan Psikososial Remaja dan Pentingnya Remaja dalam Menanamkan Nilai Keislaman

Artinya: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

Dari ayat di atas kita tahu bahwasanya bukan berarti seseorang hanya boleh beribadah murni (mahdah) dan melarang memperhatikan dunia. Berusahalah sekuat tenaga dan pikiran untuk memperoleh harta, dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita sebagai makhluk hidup di dunia, baik itu berupa kekayaan dan karunia lainnya, yaitu dengan cara kita menginfakkan dan menggunakannya di jalan Allah.

Akan tetapi, pada saat yang sama janganlah sampai kita melupakan bagian kita dari kenikmatan di dunia dengan tanpa berlebihan. Dan kita harus berbuat baik kepada semua orang dengan bersedekah sebagaimana atau disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepada kita dengan mengaruniakan nikmat-Nya, dan janganlah kita berbuat kerusakan dalam bentuk apa pun di bagian mana pun di bumi ini, dengan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan janganlah kita berbuat kerusakan dimuka bumi karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah akan memberikan balasan atas kejahatan tersebut. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan di bumi ini baik perbuatan buruk ataupun baik pasti akan balasannya.

Baca Juga:  Lestarikan Budaya Literasi

Chuang Tzu (440-260) adalah seorang tokoh filsafat timur di zaman klasik yang datang dari negeri tirai bambu dan juga menjadi orang pertama yang mencetus ajaran Taoisme. Sebagai orang yang pertama mengajarkan kesederhanaan dalam Toisme, saya tertarik dengan cara-cara yang digunakan filsuf ini dalam meraih kebahagiaan, yaitu dengan kesederhanaan. Dimana hal ini berbeda jauh dengan terjadi saat ini, orang-orang masa kini banyak sekali berfikir bahwa untuk bahagia harus memiliki banyak harta.

Halaman SebelumnyaHalaman 1 dari 2 Halaman

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending