Literatur

Lestarikan Budaya Literasi

Published

on

Mengapa tingkat minat baca masyarakat Indonesia rendah? Mungkin orang Indonesia kebanyakan sibuk mencari nafkah di sektor non-formal sehingga kurang waktu untuk beristirahat apalagi untuk untuk membaca. Hampir bisa dipastikan sangat kurang. Hanya sebagian kecil saja masyarakat Indonesia yang mempunyai cukup waktu untuk membaca. Selain itu, adanya mitos bahwa remaja atau yang suka membaca terkesan “lugu, tidak gaul, dan sebagainya” turut memperkeruh keadaan. Lingkungan yang kurang mendukung untuk aktivitas membaca, misalnya tempat tinggal di daerah selalu bising atau daerah yang kebanyakan penduduknya tingkat pendidikannya rendah.
Ingin Tulisan Kalian Di Terbitkan Disini? Sila Kirim Naskahnya ke Redaksi.SHC@Gmail.com ☺ Kru LAPMI Serang
Penyebab rendahnya semangat dan motivasi untuk membaca, yaitu berikut ini:
Baca Juga:  Jangan Ganggu Pengendara Lain
  1. Lingkungan keluarga. Mustahil seorang anak tumbuh dengan kebiasaan membaca bila kondisi di rumah atau lingkungan keluarga tak pernah membiasakan budaya membaca bagi anggota keluarga. Inilah sebabnya sedini mungkin sangat penting untuk membiasakan buah hati kita untuk membaca agar karakter ini tertanam hingga mereka dewasa kelak. Padahal membaca bisa menjadi salah satu bentuk rekreasi yang menyenangkan dan bisa membuat kita menjadi lebih santai.
  2. Lingkungan masyarakat. Dapat dikatakan bahwa hingga saat ini lingkungan sekitar masih sering memandang ganjil orang yang menghabiskan waktu dengan membaca misalnya sambil mengantri, saat berada di kereta, atau sekedar duduk di taman kota sambil membaca. Tak hanya dipandang dengan aneh, kadang ada pula yang meremehkan atau mengatakan hal-hal yang negatif sehingga yang bersangkutan merasa malu. Padahal orang-orang yang membaca di area publik seperti ini umum ditemui di negara-negara lain.
  3. Perkembangan teknologi yang kian canggih. Kemajuan pesat teknologi selain membawa dampak positif dengan memudahkan pekerjaan manusia ternyata juga bisa membawa dampak negatif bila tak digunakan, diawasi, dan dikendalikan dengan baik. Pengguna terbesar produk-produk berteknologi tinggi adalah para pemuda dan sayangnya mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget-gadgetcanggih tersebut daripada membaca.
Baca Juga:  Pemkot Serang Dinilai Pilih Kasih Dalam Penegakkan Aturan PPKM
Adapun cara untuk membangun budaya literasi:

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending