Literatur

Meneladani Orator Ulung, Raja Jawa Tanpa Mahkota: H.O.S. Tjokroaminoto

Published

on

Roem yang pernah melihat gaya berpidato mengatakan bahwa gaya serta cara berpidato Soekarno mirip dengan . Tinggi rendahnya suara, cara mengatur kalimat, dan menyusun kata, sangat menarik dan gampang dipahami oleh segenap pendengarnya, tidak peduli apakah ia orang awam, terpelajar, sarjana, tukang becak, ataupun pedagang.

Roem juga pernah mendengar langsung Harsono berpidato. Pada akhir tahun 1966, tidak lama sesudah dibebaskan dari tahanan, Roem mendapat undangan untuk berkunjung ke Makassar dan memberi ceramah di Aula Universitas Hasanuddin. Pada waktu itu, Harsono yang memimpin rombongan anggota parlemen sedang berada di kota tersebut dan akan berceramah di tempat dan waktu yang sama.

Harsono bicara lebih dahulu. la menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata terhadap Roem. Itulah pertama kali Harsono bertemu dengan Roem, sesudah Roem dibebaskan dari penjara. Kata-katanya baik, bahkan sangat manis. Roem sering mendengar dan melihat Harsono berpidato. Namun, setiap kali mendapat kesempatan itu, ia mendengarkannya seperti orang terpaku. Jika dengan perkataan tidak akan cukup untuk menggambarkan berpidato, maka dari cara Harsono berpidato, kira-kira begitulah gaya dan nada .

Harsono berpidato persis seperti Soekarno; gaya, nada, gerak-gerik tangan, dan bahasanya. Harsono memang turunan Tjokroaminoto dan tidak meniru Soekarno. Beberapa murid Tjokroaminoto lainnya juga memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berpidato yang memengaruhi massanya, seperti Semaoen dan Moeso. Semaoen yang baru berusia 18 tahun dapat mempengaruhi Sarekat Pekerja untuk melakukan pemogokan melalui pidatonya. Sedangkan, Moeso dikenal sebagai pembicara ulung, walaupun tindak-tanduknya tidak formal.

Baca Juga:  Punya Pandangan Berbeda Terkait Multatuli Dan Max Havelaar-nya? Presentasikan Di FSM!

Tjokroaminoto adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat jelata. la rajin keluar-masuk kampung, ia menolak sembah dan jongkok. Dengan kedekatan itulah, ia berhasil memenangkan hati rakyat. Tjokroaminoto juga konsisten dengan konsolidasi massa , ia sering menggelar vergadering atau rapat akbar. Vergadering memberi pengalaman baru bagi rakyat karena suasana riang dan gegap gempita, penuh semangat dan rasa solidaritas, dan menempatkan semua orang sama rata-sama rasa.

Di dalam vergadering ada musik, bendera-bendera, potret-potret, pidato yang berapi-api, penyampaian keluhan, pekik perjuangan, dan lain sebagainya. Semua orang yang hadir, tanpa memandang pangkat dan status sosial, duduk sejajar, bebas mengobrol satu sama lain, tanpa harus menghaturkan sembah ataupun jongkok. Tata hierarki masyarakat Jawa yang diperparah oleh kolonialisme dijungkir-balikkan.

Baca Juga:  Bincang Keyakinan

Salah satu pidato hebat Tjokroaminoto tampak ketika berpidato di Bandung pada tahun 1916. la mengatakan, “Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang datang dengan maksud mengambil hasilnya, dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggungjawabkan bahwa penduduknya, terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik yang menyangkut nasibnya sendiri.” Tjokroaminoto memang hebat dalam pidato. Namun, tulisan-tulisannya juga tidak kalah menarik dengan pidatonya. la mampu menumbuhkan harapan kepada rakyat, sehingga banyak orang. Pada tahun 1919, memiliki sebanyak ±2.5 juta pengikut dan seluruh indonesia.

Tjokroaminoto pun dianggap Juru Selamat atau yang bergelar Prabu Heru Tjokro. Dalam masyarakat yang kurang berpendidikan, apalagi sedang ditimpa kemelaratan, penjajahan, dan kesusahan hidup lainnya, mitos memang kuat. akan membebaskan rakyat dari penderitaan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending