Literatur

Peran E-learning di Masa Pandemi

Published

on

Oleh: Nur Ari, Mahasiswa UIN SMH Banten.

Istilah e-learning terdiri dari huruf E merupakan singkatan dari electronic dengan kata lain learning artinya pembelajaran. Dengan demikian e-learning diartikan sebagai wadah pembelajaran dan memanfaatkan bantuan perangkat elektronik, khususnya perangkat komputer. Istilah e-learning dapat pula didefinisikan sebagai sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Namun istilah e-learning lebih tepat diartikan sebagai usaha untuk membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah/madrasah atau perguruan tinggi, ke dalam bentuk digital yang di jembatani oleh teknologi internet. Studi yang dilakukan oleh Amerika sangat mendukung dikembangkannya e-learning, yakni menyatakan bahwa computer based learning sangat efektif, memungkinkan 30% pendidikan lebih baik, 40% waktu lebih singkat, dan 30% biaya lebih murah. Bank dunia (World Bank) pada tahun 1997 telah mengumumkan program Global DistanceLearningNetwork (GDLN) yang memiliki mitra sebanyak 80 negara di seluruh dunia.


Melalui GDLN ini maka World Bank dapat memberikan e-learning kepada mahasiswa 5 kali lebih banyak (dari 30 menjadi 150 mahasiswa) dengan biaya 31% lebih murah. Penggunaan e-learning dalam proses pembelajaran sudah sering dilakukan, karena sistem e-learning ini memiliki kelebihan diantaranya adalah: meningkatkan interaksi pembelajaran (enhance interactivity), mempermudah interaksi pembelajaran darimana dan kapan saja (time and placeflexibility), memiliki jangkauan yang lebih luas (potential toreacha global audience), dan mempermudah penyempurnaann dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating ofcontentas wellas archivable capabilities).


Sistem e-learning juga memiliki prinsip, sehingga pembelajaran mampu memberikan manfaat baik bagi guru maupun peserta didik. Prinsip tersebut adalah: pertama, e-learning sebagai alat bantu proses pembelajaran sehingga dapat menyelesaikan masalah, menghasilkan kreativitas, membuat proses pembelajaran lebih mudah, terarah dan bermakna; kedua, e-learning sebagai sebuah alternatif dalam sistem pendidikan memiliki prinsip high-tech-high-touch yaitu prosesnya lebih banyak bergantung kepada teknologi canggih dan lebih penting adalah aspek high touch yaitu guru atau peserta didik; ketiga, sesuaikan e-learning dengan kesiapan guru, peserta didik, fasilitas dan kultur sistem pembelajaran. Pada realita yang ada aplikasi sekarang banyak digunakan dalam proses pembelajaran adalah internet dengan berbagai fasilitas dan bentuk aplikasinya seperti e-learning. Hal ini semakin menjadi rumit ketika diterapkan kedalam proses pembelajaran agama Islam oleh guru, karena memang mereka berparadigma pendidikan agama kontennya harus disampaikan melalui metode ceramah dan langsung tatap muka karena kontennya bersifat dogmatis.


Menurut Fryer ada dua pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam memanfaatkan atau menerapkan e-learning yaitu:

  1. Pendekatan Topik (Theme-CenteredApproach). Langkah yang dilakukan dalam pendekatan ini adalah: Menentukan topik. Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dan menentukan aktivitas pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi yang relevan.
  2. Pendekatan Software (Software-Centered Approach). Pada pendekatan ini langkah pertama dimulai dengan mengidentifikasi teknologi informasi seperti dengan menggunakan aplikasi google classroom, google meet, dan zoom. Kemudian guru ataupun dosen dengan merencanakan strategi pembelajaran yang relevan.

Dalam peran e-learning juga menggunakan akses internet merupakan suatu media untuk berbagi informasi dan berinteraksi kapan dan dimana saja. Menurut Turban, internet merupakan jaringan komputer yang besar di dunia yang secara aktual merupakan jaringan dari jaringan. O’Brien berpendapat bahwa internet merupakan jaringan komputer yang berkembang pesat dari jutaan pendidikan yang berhubungan dengan jutaan komputer dan penggunanya banyak sekali. Awalnya, internet lahir untuk suatu keperluan militer Amerika Serikat. Pada awal tahun 1969 Avanced Research Project Agencyb (ARPA) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, membuat suatu eksperimen jaringan yang diberi nama ARPAnet untuk mendukung keperluan penelitian (riset). Tetapi dalam perkembangan selanjutnya jaringan ini dipergunakan untuk keperluan riset pergurungan tinggi, yang dimulai dengan University of California, Stanford Research Institute dan University of Utah. Sejumlah studi telah dilakukan, menunjukkan bahwa internet memang bisa dipergunakan sebagai media pembelajaran, seperti studi yang dilakukan oleh Centerfor Applied Special Technology (CAST) pada tahun 1996 terdapat sekitar 500 murid kelas lima dan enam sekolah dasar. Dari jumlah murid tersebut dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang dalam kegiatan belajarnya dilengkapi dengan akses internet dan kelompok kontrol. Setelah dua bulan menunjukkan bahwa kelompok ekperimen mendapat nilai yang lebih tinggi berdasarkan hasil terakhir.

Halaman SebelumnyaHalaman 1 dari 2 Halaman

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagi Trending