Kritik

Pola Asuh adalah Faktor Penentu

Published

on

Oleh: Yunda Irat Suirat, Kabid Infokom

Apa yang terpikir dalam benakmu jika membaca atau mendengar kata pola asuh?

Ya benar pola asuh sangat memengaruhi tumbuh kembang seorang anak. Di mana pola asuh dapat menentukan karakter anak.

Tapi di sini kita tidak akan membahas mengenai pola asuh orang tua terhadap anaknya. Kita coba bahas permasalahan makro di Indonesia.

Lagi lagi ini perihal Covid-19, penanganan pemerintah dan sikap masyarakat dalam menghadapi pandemi ini.

Corona Virus Disease mulai dikenal oleh dunia setelah ditemukannya banyak korban di Wuhan, China pada Desember 2019. Sejak saat itu, kasus Covid-19 mulai terdeteksi di berbagai negara di dunia, yang kemudian Indonesia juga termasuk di dalamnya.

Sebagian masyarakat dari berbagai kalangan sudah mengingatkan, agar pemerintah segera mengambil keputusan ataupun kebijakan untuk mengantisipasi virus tersebut. Namun, masihkah ingat bagaimana reaksi pemerintah Indonesia dalam menanggapi pemberitaan tersebut?

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Perupadata dan dilansir dari Desk Research, menyebutkan bahwa pada tanggal 17 Januari 2020, meskipun sudah mendapatkan peringatan dari berbagai pihak, Presiden menegaskan bahwa Covid-19 tidak terdeteksi di Indonesia.

Penegasan tersebut mungkin adalah sebuah bentuk pengendalian pemerintah pusat terhadap kekhawatiran yang sedang melanda rakyatnya.

Lalu disusul oleh pernyataan Menteri Kesehatan saat itu, yaitu Bapak Terawan mengatakan agar masyarakat enjoy aja, makan yang cukup. Lagi-lagi mungkin beliau sedang menina-bobokan masyarakat agar tidak menanggapi Covid-19 dengan panik.

Kemudian pada tanggal 7 Februari 2020, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD dengan bangganya mengatakan bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang tidak terkena Corona.

Pada bulan Februari banyak sekali mereka yang memberikan pernyataan yang seolah-olah memperolok Corona, mulai dari Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Panjaitan “Corona masuk Batam? Mobil?” ujarnya.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, “Karena perijinan di Indonesia berbelit-belit maka virus Corona tidak bisa masuk” tuturnya.

Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi, mengatakan “Kita kebal Corona karena doyan makan nasi kucing” katanya.

Semua pernyataan para elit politik tersebut benar-benar dilakukan untuk menenangkan masyarakat, agar tidak terlalu mengkhawatirkan Covid-19 yang menurut mereka mustahil masuk ke Indonesia, Pemerintah sedang memainkan “Seni mempertahankan imun.” Hal tersebut terbukti dengan digelarnya promo wisata dan buzzer medsos ‘Tangkal Ketakutan terhadap Covid-19’, yang didanai langsung oleh Presiden senilai 72M pada tanggal 26 Februari 2020.

Padahal, pada tanggal 11 Februari 2020 penelitian Harvard telah memberikan peringatan dengan mengatakan “Corona seharusnya sudah masuk RI” namun peringatan tersebut ditentang olah Menkes dan meminta untuk dibuktikan.

Namun, akhirnya pada tanggal 2 Maret 2020 saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun.

Maka dari situ, terpatahkanlah pernyataan olokan dari para elit politik tersebut. Dengan adanya kasus terkonfirmasi maka pemerintah menetapkan, Covid-19 sebagai bencana nasional pada tanggal 14 Maret 2020. Bahkan, sehari setelah penetapan bencana nasional tersebut Menhub RI pun terkonfirmasi Covid-19.

Mulai saat itu, sedikit demi sedikit kasus terkonfirmasi Covid-19 semakin menumpuk, namun presiden tetap bersikukuh untuk tidak melakukan lockdown, dan menolak rencana tes Covid-19 yang akan dilakukan terhadap anggota DPR dan keluarga.

Dengan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, menimbulkan kekhawatiran pada pemerintah daerah. Salah satunya adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengajukan permohonana karantina wilayah, pada 31 Maret 2020.

Bahkan dalam keadaan Indonesia yang semakin hari semakin bertambah kasus Covid-19, pemerintah masih terlihat seperti sedang bercanda pada bencana nasional tersebut. Masih adanya perbedaan pendapat antara satu dengan yang lainnya. Di mana Jubir Presiden, mengatakan “Mudik tidak dilarang, wajib isolasi mandiri selama 14 hari” yang kemudian di hari yang sama diralat oleh Mensesneg RI yang mengatakan “Yang benar adalah pemerintah mengajak dan berupaya keras agar masyarakat tidak perlu mudik.” Dan yang mengejutkan adalah Wakil Presiden RI mendorong MUI untuk mengeluarkan Fatwa “Mudik Haram”

Sejak awal beredarnya informasi mengenai Covid-19, pemerintah tidak begitu serius menanggapinya. Bahkan seperti yang dijabarkan di atas bahwa pemerintah seperti menyepelekannya. Mulai dari Presiden sampai dengan para menterinya.

Lalu, saat Covid-19 tidak terkendali meskipun sudah diberlakukan berbagai kebijakan. Tak sedikit pernyataan dari pemerintah yang menyalahkan masyarakat. Menurut mereka masyarakat terlalu menyepelekan Covid-19 dengan tidak terlalu mengindahkan berbagai kebijakan yang telah diberlakukan, mulai dari PSBB, Lockdown, dan PPKM.

“Pola asuh adalah faktor utama dalam menentukan tumbuh kembang anak”

Hal ini pun berlaku pada sebuah negara, bagaimana pemerintah pusat (orang tua) bertindak maka itu akan menjadi tolak ukur perbuatan masyarakatnya (anak).

“Jika masyarakat itu berpikir, mereka tidak akan melanggarnya dong, kan ini dilakukan demi kebaikan mereka.”

Iya memang benar, banyak sekali masyarakat Indonesia yang berpikir dan berwawasan luas, sehingga mereka akan melakukan sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini.

Tapi tidak sedikit juga masyarakat yang tidak bisa benar-benar mematuhi anjuran untuk di rumah saja. Mereka yang berpenghasilan tak seberapa, yang “Hasil kerja hari ini adalah untuk mencukupi kebutuhan hari ini. Untuk makan besok, akan dicari besok!” yang apabila mereka tidak bekerja hari ini maka hari ini mereka tidak akan makan.

Mereka yang “kucing-kucingan” dalam melanggar kebijakan tersebut, apabila terbukti melanggar akan dikenai sanksi yang cukup serius yang menyebabkan banyak hal.

Mereka tidak diam di rumah karena ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, dan ada kehidupan yang harus dipertahankan.

Hal tersebut juga bisa jadi karena terpengaruh oleh pernyataan-pernyataan yang terlebih dahulu yang dikeluarkan oleh orang tuanya, yang terkesan menyepelekan Covid-19. Tapi yang mereka lakukan bukanlah sekedar menganggap gampang Covid-19, tetapi juga memainkan “Seni untuk mempertahankan hidup.”

Bersambung…..

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending