Connect with us

Literatur

Positif Covid-19 adalah Takdir

Published

on

Oleh: Kanda Khairul Azizi, Kader HMI MPO Komisariat UIN SMH Banten

Saya dinyatakan Positif Covid-19 seteleh melakukan Swab Antigen pada selasa, 15 Juni 2021. Kemudian agar lebih pasti, saya lanjut untuk Swab PCR dan betul saja, hasilnya positif. Selaku manusia biasa saya kaget dan terdiam, namun apalah daya saya tidak bisa menolak akan hal ini, pada hari itu juga saya beritahu kepada keluarga, temen kerja dan organisasi untuk menghimbau dan meminta doa agar saya lekas sembuh.

Semenjak dinyatakan positif Covid-19, saya harus menjalankan isolasi mendiri di kontrakan. Senantiasa melakukan pola hidup sehat, makan dan minum vitamin agar dapat menjalankan aktivitas seperti biasa. Sekarang seluruh kegiatan harus dilakukan di dalam rumah, mulai dari beribadah, makan, hingga bekerja.

Gejala awal yang saya alami pada Selasa lalu ialah badan terasa panas di pagi hari dan semakin siang suhu badan saya semakin naik dan disertai nyeri di bagian tulang punggung hingga kebagian kaki terasa nyeri, kemudian bawaanya tidak semangat untuk menjalankan aktivitas. Tetapi setelah beberapa hari Alhamdulillah gejala tadi mulai hilang walaupun muncul gejala baru yaitu batuk berdahak, pilek dan tenggorokan sakit.

Semua dilewati dengan pikiran positif dan jiwa yang tenang, karena pada dasarnya semua yang menimpa seorang muslim adalah baik, termasuk yang menimpa saya saat ini. Dengan demikian dalam keadaan apapun kita tetap bisa bertahan, cahaya kita tak akan pudar, perjuangan hidup akan terus berjalan karena hati sudah menerima apa yang Allah gariskan.

Dalam keadaan apapun, tetap jaga konektivitas dengan Allah ya Kanda Yunda….

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Literatur

Kaum Intelektual Dewasa Ini

Published

on

Oleh: Kanda Ikmal Anshary, Kader HMI MPO Komisariat UIN SMH Banten

INTELEKTUAL Menjelmakan kata hati masyarakat menjadi fikiran-fikiran intelektual, dan hal ini pula menjadi tanggung jawab seorang intelektual. Masyarakat kita memiliki image sendiri tentang intelektual, dan itu kemudian berkembang menjadi pengharapan yang mengendap dalam lubuk hatinya.

Konsep masyarakat tentang intelektual niscayalah gambaran-gambaran tentang manusia yang merupakan ‘inkarnasi dari empu yang bertugas mengawal nurani dan menerjemahkan kata hati masyarakat ke dalam formula-formula akademis. Polemik yang terjadi tentang peranan intelektual dalam masyarakat (yang sedang membangun) bukanlah sesuatu yang baru, polemik itu latensi sifatnya, dan tidak harus berarti tidak bermanfaat.

Masyarakat kita memiliki image sendiri tentang intelektual dan kemudian berkembang menjadi pengharapan yang mengendap dalam lubuk hatinya. 11 Juni 1957 di Universitas Indonesia dalam pidatonya Dr. M. Hatta: “Dan tanggung jawab seseorang akademikus adalah intelektuil dan moril! Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.

Sosok intelektual yang ‘menyimpang’ dari konsep tersebut pastilah akan disorot tajam oleh masyarakat. Intelektual yang menyimpangkan harapan masyarakat, akan berkata sebagai pembenaran atas tingkah lakunya itu, bahwa yang mereka lakukan adalah merupakan penyesuaian semata terhadap proses perkembangan masyarakat. Dalam masyarakat pra-kapitalis toh tidak bisa lain intelektual harus memasuki rak-rak pasaran yang sudah tersedia, sebagaimana telah dicontohkan oleh masyarakat yang sudah kapitalistis.

Oleh karena itu harapan dianggap wajar, kalau ada intelektual yang menjadi pembela kepentingan modal asing. Dan harus dianggap hal yang biasa-biasa saja kalau ada intelektual yang oleh karena wewenang birokratisnya dapat tidur berbantalkan fulus, apa aneh?

Editorial Harian Merdeka tanggal 27 Februari 1981 di antaranya mengatakan: “…Bahkan masa di mana teknokrasi atau intelektualisme berperan besar kini, dianggap sebagai masa yang telah dibebaskan dari emosi dan retorika, dan sebaliknya dipimpin oleh rasio dan akal budi adalah suatu pandangan yang akurat. Meski gejala seperti diutarakan harian Merdeka itu bukan tidak pernah disorot tajam tatkala intelektual birokratis ini baru saja naik panggung.”

S. Tasrif, pengacara dan tokoh wartawan senior, dalam tulisannya yang berjudul “Situasi Kaum Intelektuil di Indonesia” (Budaya jaya No. 4/Th. I, September 1968) menulis: “…,bagian terbesar kaum intelektuil kita telah kembali ke kandangnya, telah “dipungut” lagi oleh yang berkuasa, sekalipun yang memungutnya itu adalah perintah yang telah bertekad untuk menegakkan Orde Baru, untuk menegakkan Rule of Law dsbnya di Indonesia.”

– Dan kini kaum intelektuil kita telah terbenam kembali dalam sleur dan routine sehari-hari dalam pekerjaannya di berbagai bidang pemerintahan.

– Malahan banyak di antaranya yang telah menjadi golongan vested interest baru, kalaupun tidak dikatakan telah banyak juga yang dihinggapi penyakit korupsi.

– Dan dari mereka ternyata tidak dapat diharapkan lagi ide-ide besar untuk merombak struktur masyarakat yang sudah lapuk ini, apalagi untuk berbicara tentang perjungan menegakkan Keadilan dan Kebenaran!

Harian Merdeka maupun S. Tasrif bukanlah berdiri pada kedudukan memusuhi kaum intelektual, tetapi mereka sorot seperti yang disorot oleh hal ini adalah gejala genre intelektual birokratis masa pasca 1966. Sejarah republik sejak 1945 senantiasa memberikan peranan yang berarti kepada kaum intelektual, apakah itu intelektual non-partai, ataukah politisi intelektual. Kebanyakan, kalaupun tidak hendak dikatakan bagian terbesar, dari mereka berpulang dengan nama-nama yang harum, sedang yang masih hidup dihormati dengan tulus oleh masyarakat.

Hal tersebut agaknya disebabkan genre intelektual pasca-proklamasi adalah orang-orang yang dibesarkan di dalam kancah perjuangan, orang-orang yang memiliki akar sampai kepada lapis terbawah dari masyarakat, orang-orang yang memiliki keyakinan transendental, orang-orang yang menempatkan the power of the reason di bawah sinaran iman, orang-orang yang sangat menghayati bahaya imperialisme dan kapitalisme, orang-orang yang tidak memiliki kompleks rendah diri bila berhadapan dengan orang bule.

Genre intelektual birokratis sekarang ini pada umumnya adalah orang-orang yang bersuara lantang pada waktu Simposium “Kebangkitan Semangat 66: Menjelajah Tracce Baru” yang diadakan di Universitas Indonesia tanggal 6-9 Mei 1966, forum tersebut dapat mereka nikmati sebagai buah dari demonstrasi mahasiswa dan pelajar sebagaimana dikatakan oleh S. Tasrif dalam tulisannya: “Di samping itu tentunya merupakan fakta sejarah juga bahwa yang semula tampil ke depan menyerang rezim lama itu bukan kaum intelektuil kita, tapi pelajar-pelajar dan mahasiswa-mahasiswa kita dari KAPI/KAPPI dan KAMI. Kaum intelektual kita baru tampil ke muka after the fireld has been cleared oleh pemuda kita.

Tetapi di samping mereka baru tampil ke muka setelah situasi lapangan dijernihkan’ oleh para mahasiswa dan pelajar, terdapat juga di antara genre intelektual birokratis sekarang ini yang hanya mengikuti berita-berita demonstrasi dari kejauhan nun di Eropa sana. Jadi dapat dimengerti kalau dari jurusan nilai-nilai moral genre intelektual birokratis dewasa ini agak sulit untuk diperbandingkan dengan genre intelektual pasca-proklamasi. Tidak syak lagi di dalam rangka pembangunan, intelektual sangat diperlukan. Tapi, intelektual yang bagaimana?

Wassalam

Anshary                                                                                                                          

30 September 2021   

Referensi:

Saidi, Ridwan. 1983. Islam Pembangunan Politik dan Politik Pembangunan. Jakarta: Pustaka Panjimas

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

Continue Reading

Literatur

Generasi Muda, Wajah Perekonomian Masa Depan

Published

on

Oleh: Kanda Farhan Tegar Hidayat, Editor Visual LAPMI Serang Raya

Kondisi ekonomi nasional pada tahun 2021 diperkirakan semakin meningkat, seiring dengan upaya pemerintah dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,8 sampai 5,8% dari tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 yang defisitnya hanya sebesar 2,07%. Hal ini juga tidak luput dari adanya peran pemimpin yang melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia.

Selaras dengan pengertian yang dipaparkan oleh Robert Tanenbaum bahwa:

Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan.


Pemimpin yang baik harus mempunyai keahlian di bidangnya, pemberian tugas atau wewenang kepada yang tidak berkompeten akan mengakibatkan rusaknya pekerjaan bahkan organisasi yang menaunginya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya.” (HR. Bukhori Muslim)

Dengan semakin pulihnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, menandakan bahwa pemimpin yang memiliki wewenang di bidangnya cukup kompeten dalam mengatasi permasalahan ekonomi di periode sebelumnya.


Bank Indonesia, dengan salah satu tugasnya menjaga stabilitas moneter pertumbuhan ekonomi Indonesia menghadirkan program yang bergerak di bidang pendidikan, dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi. Program ini bertujuan untuk mendukung terlahirnya generasi Indonesia, yang akan menjadi harapan dalam peningkatan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang.

Berdasarkan hal itu, maka dibentuklah komunitas GenBI (Generasi Baru Indonesia) yang menaungi penerima beasiswa Bank Indonesia. Adapun salah satu tujuan dibentuknya GenBI adalah menjadikan anggota GenBI sebagai Future Leader, yang diharapkan menjadi pemimpin masa depan di berbagai bidang dan tingkatan.

Untuk mencapai tujuannya, GenBI mengadakan salah satu program yang disebut dengan Leadership Camp. Leadership Camp berisi kegiatan pelatihan kepemimpinan yang dikhususkan kepada anggota GenBI dalam mengeksplorasi lebih jauh potensi kepemimpinan peserta, sekaligus meningkatkan soft skill dan motivasi untuk turut serta dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih positif.


Adanya GenBI dengan berbagai program yang dicetuskan untuk menciptakan pemimpin yang berkompeten dalam segala bidang khususnya bidang ekonomi, diharap akan mampu membawa banyak perubahan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah yang lebih baik, sehingga mampu menciptakan stabilitas ekonomi Indonesia yang akan mendatang.

Continue Reading

Kabar

Ketahanan (Lumbung) Pangan Indonesia

Published

on

PENDAHULUAN

Seorang politikus Amerika Serikat, Henry Kissinger, menyebut “Kontrol minyak, maka Anda akan kendalikan negara; Kontrol pangan, maka Anda akan mengendalikan rakyat.” Tidak bisa dipungkiri, bahan pangan dan air telah menjadi kebutuhan utama umat manusia, terlepas status sosial, suku, ras, hingga agama.

Begitu mengakarnya konsep tersebut di lingkungan kita, membuat bahan pangan menjadi komoditas politik. Mulai dari kail untuk menarik suara (bagi calon wakil rakyat) melalui bagi-bagi sembako gratis, hingga alat untuk menjaga kekuasaan rezim melalui program ‘pengenyangan’ rakyat. Jika perut masyarakat telah terisi, maka memudarlah para pengkritisi.

Bila yang terjadi sebaliknya, maka bencana kelaparan yang akan menyapa. Konflik antarwarga sipil juga tidak bisa terhindarkan. Budayawan Indonesia, Sujiwo Tejo, menyebut bahwa untuk menjaga perdamaian dunia, daripada repot-repot diskusi angsana-sini tentang potensi konflik antaragama, antarideologi, dan lain-lain, mending fokus ke soal rasio ketersediaan pangan dan jumlah warga dunia.

Apakah mungkin dunia dilanda krisis pangan? Sekilas pertanyaan tersebut terkesan utopis. Bagaimana tidak? Para petani masih bekerja, ditambah sawah masih membentang di mana-mana. Apalagi, persyaratan terjadinya krisis pangan adalah penurunan tajam produksi pangan dunia dan peningkatan harga pangan.

Berdasarkan data dari vas-USDA (Foreign Agricultural Servis of the U.S. Department of Agriculture) menyebut bahwa produksi serealia dunia di periode 2019/2020 justru mencapai rekor tertinggi, 3 miliar ton. Walaupun, di Indonesia produksi pangan terutama padi memang tidak menggembirakan. Peningkatan produksi rata-rata hanya 0,78 persen setiap tahun, selama 18 tahun terakhir. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan penduduk yakni 1,3 hingga 1,4 persen.

Terlepas dari hal tersebut, pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’ harus senantiasa digaungkan. Ada dua kondisi yang mengancam stabilitas pangan nasional, yakni bencana dan buruknya tata kelola. Beberapa ahli dan kepala negara, termasuk Joko Widodo, berulang kali menyampaikan kekhawatiran terjadinya krisis pangan akibat pandemi Covid-19. Apalagi tidak ada yang tahu, kapan mendung pandemi akan pergi menjauh dari bumi.

Lebih jauh, Badan Pertanian dan Pangan Dunia (FAO) bersama 16 organisasi internasional juga mengingatkan adanya krisis pangan melalui laporannya yang bertajuk 2020 Global Report ons Food Crisis. Sehingga, narasi ketahanan pangan menjadi hal yang relevan untuk menjaga keberlangsungan dunia pada masa depan, dengan sektor pertanian sebagai aktor utama.

KONDISI KETAHANAN PANGAN INDONESIA

Pertanyaannya, mengapa kebutuhan pangan kita masih tercukupi? Bahkan Indeks Ketahanan Pangan Indonesia terus meroket dari urutan ke-75 dari 113 negara di 2015 menjadi posisi ke-62 di 2019. Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata performa tersebut ditopang oleh peningkatan impor pangan. Negara dengan indeks ketahanan pangan tertinggi di dunia adalah Singapura, yang sekitar 90 persen kebutuhan pangannya dipenuhi dari impor.

Semenjak tahun 2014, impor Indonesia melingkupi delapan komoditas utama yakni gandum, beras, jagung, kedelai, gula tebu, ubi kayu, bawang putih, dan kacang tanah. Data dari Pusdatin Kementerian Pertanian menyebut, terjadinya lonjakan hampir 6 juta ton hanya dalam tempo lima tahun (2014-2019) dengan volume impor di atas 300.000 ton per tahun.

Tidak hanya persoalan penurunan produksi padi dan impor pangan yang terus meningkat, Indonesia juga dilanda masalah ketersediaan lahan. Luas lahan baku sawah menurun tajam dari 8,38 juta hektare di 2012 (Landuse BPN, 2012) menjadi hanya 7,46 juta hektare di 2019 (ATR/BPN, 2019). Artinya, terjadi penurunan 1 juta hektare selama 7 tahun terakhir. Guna menyiasati hal tersebut, pemerintah membuka lahan untuk pertanian di luar Jawa. Namun, setiap penurunan 1 hektare sawah di Jawa harus digantikan 2 hingga 4 hektare di luar Jawa untuk mencapai tingkat produksi yang sama.

Celakanya, ketahanan pangan yang ditopang dari impor teramat rapuh. Kerusuhan besar yang terjadi di 15 negara importir pangan di Afrika Utara dan Timur Tengah, yang berakhir dengan tumbangnya berbagai rezim, dipicu kenaikan harga pangan. Hal yang sama juga memicu tumbangnya rezim di Sudan pada April 2019, yaitu kenaikan harga roti hingga tiga kali lipat. Sehingga, peningkatan produksi pangan menjadi faktor kunci stabilitas politik dan sosial di Indonesia.

CERITA LUMBUNG PANGAN NASIONAL

Pemerintah melirik lumbung pangan sebagai solusi untuk meningkatkan produksi padi nasional. Sebenarnya, cita-cita tersebut telah muncul di tahun-tahun terakhir pemerintahan Soeharto, yakni pengembangan lahan gambut 1 juta hektare di Kalimantan Tengah. Proyek tersebut diketuai oleh Menko Ekuin melalui Keppres No. 82/1995 yang melibatkan sepuluh kementerian. Target pengembangan lahan gambut ini untuk memproduksi 2 juta ton beras per tahun.

Namun, proyek tersebut tidak mengindahkan prinsip-prinsip ilmiah. Sebanyak 56 juta meter kubik kayu lenyap, menguntungkan segelintir orang, dan lingkungan rusak. Proyek dengan biaya awal 3 triliun tersebut gagal, dan pemerintah harus menambah 3 triliun lagi untuk rehabilitasi lingkungan. Saat ini, lokasi tersebut menjadi sumber bencana kabut asap di setiap musim kemarau.

Pada masa pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), cerita coba disusun ulang dengan jargon food estate (lumbung pangan). Ada dua area yang disasar, yakni Ketapang dengan luas 100.000 hektare dan Bulungan seluas 300.000 hektare. Seperti mengulang cerita lama, keduanya juga gagal total. Di Food Estate Ketapang hingga Agustus 2013 hanya berhasil dikembangkan 100 hektare, sedangkan di Bulungan menurut laporan dicetak 1.024 hektare sawah hingga 2014.

Cerita pun terus berlanjut di tahun 2008. Berbekal tiga landasan hukum, yaitu PP No 26/2008, Perpres No 5/2008, dan PP No 18/2010, dikembangakan MIFEE (The Merauke Integrated Food and Energy Estate). Optimisme mencuat dengan total wilayah yang akan dikembangkan adalah 1,23 juta hektare, apalagi saat itu dunia tengah didengungkan dengan jargon feed the world. Hingga Mei 2010, 36 investor masuk dan hanya satu investor untuk padi, lainnya untuk hutan tanaman industri, perkebunan sawit, tebu, dan jagung. Proyek tersebut bernasib sama dengan para pendahulunya.

KONSEP KEDAULATAN PANGAN

Formateur HMI MPO Komisariat Persiapan Unbaja (HMI MPO Persiapan Unbaja), Walinegara, menyebut bahwa ada empat pilar dalam pengembangan lahan pangan, utamanya padi.

  1. Pilar pertama adalah kelayakan tanah dan agroklimatologi. Tidak ada satu pun tanaman pangan yang bisa berproduksi jika tanah dan/atau agroklimatologi tidak cocok untuk tanaman tersebut.
  2. Pilar kedua, kelayakan infrastruktur, baik infrastruktur irigasi maupun infrastruktur transportasi untuk pergerakan input dan output dari lahan usaha tani.
  3. Pilar ketiga, kelayakan budidaya dan teknologi.
  4. Pilar keempat adalah kelayakan sosial dan ekonomi.

Apabila pemerintah tetap melanjutkan pengembangan lumbung pangan di kawasan bekas lahan gambut sejuta hektare di Kalimantan Tengah, keempat pilar tersebut mutlak harus dipenuhi. Perubahan paradigma dan konsep juga perlu dilakukan, dengan mengubah pendekatan ketahanan pangan ke kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan menempatkan petani kecil di puncak teratas arus besar pembangunan pertanian. Upaya tersebut diharapkan dapat meneguhkan narasi ketahanan pangan Indonesia, menuju pertanian berkelanjutan.

(W-LAPMI Serang Raya)

Continue Reading

Literatur

Krisis Multidimensi, Sudahkah Indonesia Merdeka?

Published

on

Oleh: Arif Firmansyah, Ketua Umum HMI MPO Komisariat UIN SMH Banten

Dirgahayu Republik Indonesia ke 76: Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Tema yang diusung dalam merayakan kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini. Saya tidak tahu apa makna yang terkandung dalam tema tersebut, mungkin maksudnya untuk memotivasi rakyat Indonesia agar tetap semangat, optimis, dan pantang menyerah dalam menghadapi krisis bangsa Indonesia pada berbagai sektor baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dan kesehatan.

Mari kita mencoba menguliti arti merdeka dan kemerdekaan, dari beberapa literatur.

Menurut KBBI: Merdeka adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan), berdiri sendiri atau independen dan lain sebagainya.

Kemerdekaan dalam bahasa Arab disebut al-Istiqlalu, ditafsirkan sebagai:
al-Taharrur wa al-Khalash min ayy Qaydin wa Saytharah Ajnabiyyah(bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain).
ATAU
al-Qudrah ‘ala al-Tanfidz ma’a In‘idam Kulli Qasr wa ‘Unf min al-Kharij(kemampuan mengaktualisasikan diri tanpa adanya segala bentuk pemaksaan
dan kekerasan dari luar dirinya)
.

Definisi lain ditemukan dalam laman Wikipedia, tertulis arti kemerdekaan bahwa: Kemerdekaan merupakan keadaan suatu bangsa atau negara yang pemerintahannya diatur oleh bangsanya sendiri tanpa intervensi pihak asing. Kemerdekaan suatu negara erat kaitannya dengan kedaulatan terhadap wilayah teritorial negara.

Singkatnya, kemerdekaan adalah terbebas dari berbagai macam intervensi baik itu dari kelompok atau bangsa tertentu. Dari uraian sebelumnya muncul pertanyaan apakah Indonesia benar-benar merdeka 100%? Ataukah kemerdekaan yang diraih ternyata bersifat semu dan tidak semua kalangan rakyat Indonesia merasakan kemerdekaan?

Kemerdekaan Indonesia seharusnya dapat memberikan pengaruh dan manfaat yang baik bagi rakyat Indonesia. Di antara pengaruh dan manfaat yang sangat diharapkan oleh rakyat atas kemerdekaan Indonesia adalah bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Tapi pada faktanya, sejak kemerdekaan sampai saat ini, Indonesia masih belum mampu memberikan manfaat yang dimaksudkan tadi (persatuan, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran), masih belum dirasakan oleh masyarakat pada umumnya. Mungkin saja sebagian masyarakat tertentu sudah merasakan buah dari kemerdekaan 17 Agustus 1945, sebut saja para elit politik, pejabat, korporat, dan masyarakat lain yang memiliki tingkat perekonomian di atas rata- rata.

Lalu bagaimana dengan mereka yang bekerja serabutan, masyarakat kecil yang tingkat pendapatannya jauh di bawah upah minimum kota/kabupaten ataupun upah minimum provinsi? Tentu saja bagi mereka, sama sekali tidak merasakan pengaruh dari sebuah kemerdekaan, mereka masih terjajah dengan bentuk penjajahan gaya baru.

Pertama, bersatu/persatuan. Saat ini rakyat Indonesia masih terpecah belah, baik itu disebabkan oleh kontestasi politik misalnya cebong-kampret, perbedaan RAS, agama, dan atau karena status sosial. Sering kali kita mendengar konflik antara masyarakat karena perbedaan ras dan agama.

Kedua, berdaulat/ kedaulatan. Demokrasi yang selama ini selalu mempropagandakan slogan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” tapi faktanya “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk birokrat“. Bisa saja di sektor lain ada istilah “dari rakyat, oleh birokrat, dan untuk birokrat.” Artinya birokrat dan elit politik yang meraup keuntungan dalam berbagai macam kebijakan.

Contoh saja demonstrasi yang sempat berjilid-jilid pada tahun 2019 lalu, mulai dari RUU KUHP, RUU KPK, dan yang terakhir adalah UU OMNIBUS LAW. Padahal sudah jelas dan terang rakyat Indonesia bersepakat menolak pengesahan beberapa RUU tersebut, tapi pada faktanya aksi demonstrasi yang begitu besar dan berjilid-jilid pun diabaikan, dan pembahasan RUU tetap dilanjutkan sampai tahap pengesahan.

Ketiga, adil/keadilan. Sampai saat ini Indonesia masih jauh dari makna keadilan, belum juga dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Contoh saja kasus Habib Rizieq Shihab sangat kontras sekali sisi politisnya, jika dibandingkan dengan kasus- kasus lain yang serupa. Sama- sama melanggar prokes Habib Rizieq didenda 50 juta, tukang bubur di Jawab Barat didenda 5 juta, anggota DPRD Banyuwangi didenda 500 ribu, dan Kepala Desa didenda 48 ribu.
Belum lagi kasus-kasus korupsi yang merajalela, Djoko Chandra seorang buronan korupsi yang telah merugikan bangsa Indonesia hanya di berikan hukuman 4 tahun kurungan penjara, kasus Jaksa pinangki, tidak lupa juga Juliari Batubara yang hanya divonis 11 tahun penjara meskipun sudah merugikan rakyat Indonesia triliunan rupiah. Apakah anda ingin menerima ini sebagai sebuah fakta keadilan???

Keempat, makmur/ kemakmuran. Kemakmuran yang didamba-dambakan oleh setiap individu dan dapat dirasakan secara bersama ternyata hanya isapan jempol semata. 76 tahun Indonesia merdeka tapi tingkat kemiskinan masih tetap di atas rata- rata, masih terlihat banyak anak-anak jalanan meminta-minta meskipun terik panas menyekat di atas kepala. Di sisi lain Indonesia merupakan negara yang kaya raya, sumber daya alam melimpah ruah di berbagai wilayah nusantara. Papua sebagai pemasok terbesar sumber daya alam nyatanya dikeruk oleh Amerika, rakyat Indonesia hanya mendapat ampasnya saja.

Miris sekali jika berbicara tentang kemakmuran di negeri yang masih dijajah oleh sistem negara yang menguntungkan para penguasa.

Apakah ini sebuah fakta kemerdekaan???

Tidak cukup kiranya tulisan ini memuat bagaimana bobroknya sistem di negara ini yang menjadikan kemiskinan merajalela, selama sistem kapitalisme demokrasi sekuler masih bercokol di negeri ini, saya kira cukup sulit untuk menciptakan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

Sudah seharusnya Indonesia terlepas dari penjajahan gaya baru, sudah seharusnya Indonesia bangkit, berdiri sendiri tanpa diintervensi oleh kelompok tertentu (dalam hal ini para kapitalis global). Sudah saatnya Indonesia merdeka seluruhnya dan seutuhnya, tanpa sedikitpun terikat oleh kepentingan bangsa asing maupun aseng, apalagi di bawah kekuasaan para kapitalis global.

Mari bersatu, membangun negeri menuju negeri yang baldatun, thoyyibatun warobbun ghofur.

Continue Reading

Literatur

Kapan Puasa Tasua, Puasa Asyura dan Puasa Ayyamul Bidh Tahun 2021?

Published

on

Oleh: Kanda Aldo Aldiyansah, Redaktur Bahasa LAPMI Serang Raya

Assalamualaikum Wr Wb

Hallo! Apa kabar teman-teman pembeca setia Suara Himpunan, pasti baik-baik aja yaa.

Bulan Muharram termasuk bulan istimewa sehingga umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah. Selain memperbanyak berzikir dan bersalawat, ada juga anjuran untuk  puasa Tasua dan Asyura. Lalu, kapan puasa Tasua dan puasa Asyura 2021 dilaksanakan? 

Puasa Tasua adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 9 Muharram. Sementara puasa Asyura juga merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Puasa Tasua dan Asyura biasanya dikerjakan berdampingan. Namun, boleh juga mengerjakan salah satunya maupun kedua-duanya. 

Puasa tersebut dilakukan sebagaimana puasa sunnah maupun wajib. Orang yang berpuasa Tasua ataupun Asyura disunnahkan sahur, kemudian berpuasa menahan lapar dan hawa nafsu dari terbit fajar sampai terbenam matahari. 

Kedua puasa tersebut, baik puasa Tasua dan puasa Asyura, hukumnya sunnah sehingga akan berpahala bagi yang menunaikan tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya. 

Allah SWT memberikan kemudahan kepada hamba-Nya untuk mengerjakan maupun tidak puasa Tasua dan Asyura. Namun, beribadah pada bulan Muharram mengandung banyak keutamaan yang besar, sehingga sebaiknya turut mengerjakannya untuk menambah pahala. 

Seperti hadis riwayat Imam Masai, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:  “Sesungguhnya Muharram adalah bulannya Allah yang di dalamnya tepat menjadi hari bertaubat umat Islam atas dosa-dosa yang terdahulu.”

Dari Abu Hurairah RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah pada bulan Allah yaitu, Muharram.” (HR. Muslim) 

  1. Puasa Tasu’a dilaksanakan pada 9 Muharram jatuh pada hari Rabu, 18 Agustus 2021; Bacaan niat puasa Tasu’a beserta artinya: نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُعَاءْ سُنَّةَ ِللهِ تَعَالَى Nawaitu sauma tasu’a sunnatal lillahita’ala

Mengacu pada salah satu hadis riwayat Imam Muslim. Dalam hadis itu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tasu`a (pada 9 Muharram).” Tetapi Rasulullah SAW wafat sebelum Muharram tahun berikutnya tiba.

  • Puasa Asyura dilaksanakan pada 10 Muharram jatuh pada Kamis, 19 Agustus 2021; Bacaan niat puasa Asyura adalah sebagai berikut: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati ‘Asyura lillahi ta’ala.

Dari Abu Qatadah RA, bahwa “Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ‘Asyura? Beliau menjawab, “Puasa ‘Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

  • Puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan pada 13-15 Muharram jatuh pada hari Minggu-Selasa, 22-24 Agustus 2021. Dalam sebuah hadits Mutafaqun ‘Alaih, puasa Ayyamul Bidh nilainya setara dengan puasa sepanjang tahun

Bacaan niat puasa Ayyamul Bidh نَوَيْتُ صَوْمَ اَيَّامَ اْلبِيْضِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى Nawaitu Sauma Ayyaamal Bidh Sunnatan Lillaahi Ta’ala.

Continue Reading

Literatur

Hari Ini Berjuang, Esok Raih Kemenangan

Published

on

Oleh: Yunda Irat Suirat, Kabid Infokom HMI MPO Cabang Serang

Hallo teman-teman, bagaimana kabarmu hari ini? Semoga selalu dalam keadaan baik ya.
Oh iya, apa kabar dengan hati? Masih menunggu atau sudah menemukan yang baru? Atau justru masih berjuang untuk mendapatkannya? Apapun yang kalian lakukan dan rasakan semoga masih dalam ridho Allah AWT, Aamiin.

Apa kabar dengan perjuangan hari ini? Masih kuatkah untuk berjuang atau sudah mulai merasa lelah dan putus asa?
Untukmu, untukku, dan untuk kalian yang masih memiliki semangat berjuang, ayo terus tingkatkan semangat perjuangan itu karena sejatinya proses tak akan pernah mengkhianati hasil.

Tetapi untukmu yang sudah mulai merasakan lelahnya perjuangan, dan saat ini ingin memutuskan berhenti berjuang, ingatlah bahwa perjuanganmu saat ini tak sebanding dengan perjuangan para pendahulu kita.

Coba bayangkan, para pendahulu rela berjuang sampai titik darah penghabisan agar kita tak hidup sengsara. Sekarang kita hidup dengan tenang, aman, damai, dan sejahtera tanpa dihantui rasa takut setiap detiknya.

Mereka merelakan masa mudanya, yang seharusnya digunakan untuk bersenang senang, tetapi malah digunakan untuk berjuang, mempertaruhkan nyawa demi nusa dan bangsa. Sedangkan, kita hanya berjuang untuk mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan tersebut, artinya kita hanya harus memikirkan bagaimana perjuangan pendahulu tak sia-sia, dengan mengisi hal-hal positif. Agar negara ini tetap bertahan dengan kemerdekaannya, yang kemudian berkembang menjadi negara maju, sesuai dengan yang kita semua inginkan. Dengan cara melawan pendangkalan-pendangkalan ilmiah yang mulai merajarela di negeri ini.

Masyarakat saat ini telah dipengaruhi oleh pembodohan-pembodohan ilmiah yang telah disebarkan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab. Dan mereka menyebarkan banyak virus-virus malas pada diri kita dengan banyak menciptakan mesin-mesin yang katanya mempermudah pekerjaan manusia. Namun, faktanya itu adalah strategi mereka untuk melemahkan kita, agar nantinya mereka bisa dengan mudah menyerang kita ketika kita lengah.

Jadi, ketika semangat berjuangmu mulai melemah, kau cukup ingat saja bahwa perjuanganmu untuk melawan pendangkalan ilmiah itu hanya sebagian kecil saja dari perjuangan para pendahulu sepanjang waktu dan di sepanjang bumi.

Dan ingat teman, ketika kau berjuang janganlah kau merasa bahwa dirimu sendirian dan kau adalah orang yang paling menderita dalam perjuanganmu ini, karena sesungguhnya penderitaanmu saat ini hanya sebagian kecil saja dari pada penderitaan berjuta-juta rakyat di berbagai belahan bumi lainnya.

Dan teman, ketika kau merasa lelah maka istirahatlah sejenak, tetapi jangan pernah kau berpikir untuk meninggalkan perjuangan hanya karena letihmu yang kau rasakan saat ini. Istirahatlah dan siapkan energi terbaikmu untuk melanjutkan perjuangan ini, sehingga apa yang kita inginkan bisa tercapai tepat pada waktunya bukan pada waktu yang tepat.

Tetap semangat kawan, ingatlah kau tak berjuang sendirian karena di sini ada aku, dia, dan mereka yang pasti akan sanggup menemani perjuanganmu sampai kau merasa benar-benar lelah dan tak sanggup lagi, dan aku akan berada disampingmu untuk menyemangatimu. Bukankah berjuang bersama itu lebih mudah dan indah dibandingkan dengan berjuang sendirian?

Semoga lelahmu menjadi Lillah ya kawan.

Salam hangat, semoga bahagia agar imun kita tetap terjaga. Selain jaga imun, jangan lupa jaga iman. Terima kasih.

Continue Reading

Literatur

Muasal Kalender Hijriyah

Published

on

Oleh M Chozin Amirullah (alumnus Ponpes Tebuireng, mantan Ketua Umum HMI-MPO periode 2009-2011)

Sebelum era Islam, orang Arab sebenarnya sudah menggunakan kalender luni-solar, yaitu kalender gabungan antara penanggalan lunar (bulan) dengan penanggalan solar (matahari). Penanggalan lunar yang jumlah harinya lebih sedikit disesuaikan dengan jumlah hari pada kalender solar. Kalender lunar hanya memiliki 354 hari dalam setahun (selisih 11 hari dari kalender solar), oleh karena itu, agar sesuai dengan kalender solar yang memiliki 365 hari, mereka menambahkan bulan tambahan (bulan ke-13) untuk setiap beberapa tahun sekali, yang disebut nasi’. Kenapa tahun nasi’ itu ada? Agar bulan Muharram (yang merupakan awal tahun baru) akan selalu jatuh setelah musim panas (sekitar bulan September – menurut kalender solar).

Sayangnya, pada waktu itu selalu saja ada konflik antar suku dalam memutuskan tahun nasi’. Setiap suku di Arab memiliki pendapat berbeda-beda untuk memulai tahun barunya. Kadang konflik tersebut menyebabkan perang antar suku, karena ketika satu suku memiliki keputusan yang berbeda untuk memulai tahun baru, mereka juga akan memulai bulan Muharram pada waktu berbeda pula. Oleh karena itu penamaan Muharram sebenarnya dibuat untuk menghindari terjadinya konflik tersebut. Muharram berarti bulan larangan. Dinamakan demikian karena pada bulan tersebut adalah bulan tidak boleh pergi berperang.

Muharram adalah bulan perdamaian dimana suku-suku di Arab waktu itu mempunyai kesepakatan untuk tidak saling perang. Sayangnya, kesepakatan tersebut seringkali dilanggar dan suku-suku masih berkonflik dalam menentukan tahun nasi’. Konflik antara suku-suku Arab tersebut baru bisa diakhiri setelah bangsa-bangsa di Arab bisa dipersatukan oleh Nabi Muhammad SAW. Al-Quran surat At-Taubah ayat 36-37 memerintahkan mereka untuk menggunakan kalender lunar yang sebenarnya (yaitu yang memiliki 354 hari dalam setahun, atau 11 hari kurang dari kalender solar).
Dengan perintah tersebut, mereka tidak perlu lagi untuk menambahkan bulan tambahan pada setiap beberapa tahun, yang seringkali malah menimbulkan konflik antar suku.

“Jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas (dalam setahun) – ditahbiskan oleh-Nya pada hari dimana Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya empat kekudusan (suci). Yang demikian adalah agama yang lurus. Janganlah kamu mendzalimi dirimu di dalamnya. Lawanlah kaum pagan (musyrik) karena mereka memerangi kamu. Tetapi ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS At-taubah 36).

Sesungguhnya nasi’ adalah tambahan dari orang-orang kafir. Mereka membuat diperbolehkan satu tahun, dan dilarang satu tahun lagi, dalam rangka menyesuaikan jumlah bulan dilarang dan membuat seperti yang sah. Mereka memang dihiasi perbuatanya dengan hal-hal yang buruk. Dan Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang kafir. (Q.S. At-Taubah 37).

Nama-nama Bulan

Selain Muharram, nama-nama bulan dalam kalender Arab yang masih luni-solar menyesuakan dengan musim. Misalnya, bulan Shafar yang merupakan bulan kedua dalam kalender lunar, artinya harfiahnya adalah “kuning”, saat dimana daun-daun mulai menguning. Dalam penanggalan Masehi, bulan Shafar bertepatan dengan bulan September.

Bulan Rabi’ul Awal dan Rabi’ul Akhir, keduanya berarti musim gugur. Rabi’ artinya jatuh (gugur). Rabiul Awal berarti musim gugur yang pertama yang bertepatan dengan bulan November. Sedangkan Rabiul Akhir berarti musim gugur yang terakhir (bulan Desember).

Jumadil Awal dan Jumadil Akhir adalah bulan-bulan beku. Bertepatan dengan bulan Januari dan Februari. Jumadil asal katanya jumud, artinya beku (stagnan). Bulan Jumadil Awal berarti bulan beku pertama (Januari) dan Jumadil Akhir berarti bulan beku kedua (Februari).

Rajab artinya meleleh. Disebut bulan Rajab, karena pada bulan tersebut adalah saat di mana salju mulai mencair dan mulai berpindah ke musim semi. Bulan tersebut bertepatan dengan bulan Maret.

Sya’ban yang berarti lembah dipakai untuk sebagai nama bulan (yang bertepatan dengan bulan April), adalah saat dimana para petani pergi ke lembah untuk memulai pertanian dan peternakan. Mereka pergi ke lembah untuk menanam dan membawa ternak untuk merumput.

Kemudian Ramadhan, artinya panas/pembakaran, digunakan untuk menyebut hari-hari yang suhunya mulai memanas. Bulan ini bertepatan dengan bulan Mei. Waktu itu sudah ada tradisi berpuasa pada bulan Ramadhan, yang kemudian pada masa Islam menjadi diwajibkan, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Ali Imran 183.

Bulan Syawal (yang berarti kenaikan), bertepatan dengan bulan Juni yang suhunya mulai menaik. Puncak panas jatuh pada pada bulan Dzul-qa’dah, dimana orang-orang enggan untuk bepergian karena suhu di luar panas. Oleh karena itu bulan ini dinamakan dengan Dzul-qo’dah, yang berasal dari kata qo’ada (duduk). Pada saat itu orang-orang lebih suka tinggal (duduk) di rumah saja. Bulan ini bertepatan dengan bulan Juni.

Dan terakhir adalah bulan Dzul-hijjah yang berasal dari kata hajj, artinya bulan haji). Bulan ini adalah waktu dimana orang-orang Arab berkunjung ke Mekah untuk mengenang peninggalan nenek moyang mereka Nabi Ibrahim berupa batu Ka’bah.
September = Muharram (yang dimuliakan) Oktober = Safar (menguning) November = Rabi’ul Awal (gugur awal) Desember = Rabi’ul Akhir (gugur akhir) Januari = Jumadil Awal (stagnan awal) Februari = Jumadil Akhir (stagnan akhir) Maret = Rajab (meleleh) April = Sya’ban (lembah) Mei = Ramadhan (panas) Juni = Syawal (kenaikan) Juli = Dzul-qa’dah (duduk) Agustus = Dzul-hijjah

Saat nabi mengubah kalender uni-solar menjadi kalender lunar secara penuh (sebagaimana dalam surat At-taubah 36-37 di atas), Nabi masih tetap mempertahankan nama-nama bulan sebagaimana sebelumnya. Nama-nama bulan Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadl Awal, jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah masih tetap digunakan, hanya saja tidak lagi merepresentasikan musim.

Perintah Allah melalui Nabi Muhammad untuk bergeser dari kalender luni-solar ke kalender lunar murni telah menciptakan perdamaian antara orang-orang Arab waktu itu. Orang-orang tidak lagi berkonflik hanya untuk menentukan tahun nasi ‘. Belajar dari cerita tersebut, kita dapat melihat bagaimana Islam (yang berarti damai) pada era Nabi Muhammad SAW adalah memang benar-benar menjadi sarana resolusi konflik dan membawa perdamaian bagi masyarakat.

Manfaat lain menggunakan kalender lunar murni bagi umat Islam adalah bahwa tujuan Islam sebagai agama yang tidak hanya diperuntukkan bagi orang Arab saja, melainkan bagi semua manusia, adalah benar. Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil’aalamiin (Allah tidak memilih dia sebagai utusan kecuali untuk memberkati bumi).

Bisa dibayangkan, jika penanggalan Islam masih menggunakan kalender matahari (solar), orang-orang yang berada di belahan bumi utara akan selalu memiliki hari-hari berpuasa Ramadhan lebih panjang dibandingkan dengan orang-orang yang hidup belahan bumi sebelah selatan bukan? Dengan menggunakan kalender lunar, orang-orang yang hidup di belahan bumi bagian utara kadang-kadang berpuasa Ramadhan lebih panjang dan juga kadang berpuasa lebih pendek – demikian juga sebaliknya. Artinya, ajaran-ajaran Islam cocok untuk diterapkan di belahan bumi mana saja.

Tentang Nama dan Angka Tahun Hijriyah

Pada era Nabi Muhammad SAW, sebenarnya belum ada istilah kalender tahunan Hijriyah. Yang ada adalah kalender bulanan dengan nama-nama bulan sebagaimana disebutkan di atas, tetapi tidak ada angka tahunnya. Waktu itu, tahun hanya ditandai dengan momen/kenangan terbesar yang terjadi pada saat itu.

Misalnya, tahun kelahiran nabi dinamakan tahun gajah (‘amul fiil) karena ada momen besar dimana waktu itu Raja Abrahah menyerang Mekkah dengan menggunakan tentara yang naik gajah. Maka tahun itu dinamakan tahun gajah.
Kalender tahunan Hijriyah muncul ketika era pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab (643-644 M). Sebuah komite yang terdiri dari enam orang, dipimpin langsung oleh Umar bin Khattab sendiri, bekerja untuk menetapkan dimulainya penggunaan kalender Islam.

Ide menggunakan nama Hijriyyah berasal dari Ali bin Abi Tholib, yang menjadi salah satua anggota komite. Tahun pertama penanggalan diawali dengan tahun ketika Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Makanya namanya menjadi kalender Hijriyah.
Pertimbangan Ali bin Abi Thalib menjadikan momen hijrah nabi sebagai nama dalam kalender Islam adalah karena begitu bersejarahnya peristiwa tersebut sehingga ayat-ayat Al-Qur’an banyak memberikan kredit kepada seseorang yang melakukan hijrah. Masyarakat Islam didirikan secara independen setelah hijrah Nabi (bergerak) dari Mekah ke Madinah.

Disamping itu, menurut Ali bin Abi Thalib, setiap Muslim seharusnya memiliki inspirasi dari hijrah, yaitu memiliki kehidupan yang dinamis. Muslim seharusnya tidak stagnan pada satu kondisi, tetapi mereka harus secara aktif tumbuh dan berubah menjadi yang lebih baik. []

Sumber:
https://www.kompasiana.com/chozin/54f6aec6a3331135588b461a/muasal-kalender-hijriyah?page=all

Continue Reading

Literatur

Arogansi Bukan Solusi

Published

on

Oleh: Yunda Saputri, Kader HMI MPO Komisariat Untirta Ciwaru

Humor Gus Dur yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita: “Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.” Ya kurang lebih isinya begitu.

Kutipan yang pernah saya dengar ini kembali menarik perhatian saya, pasalnya baru-baru ini saya melihat dalam laman sosial media tentang bagaimana Jenderal Hoegeng memberikan sanksi pada tukang becak yang melanggar aturan. Bukan, bukan menegur dengan nada tinggi, bukan pula menegur dengan sikap arogan. Saya rasa, hal ini patut dijadikan contoh.

Saya tidak ingin menyoroti siapa itu sosok Jenderal Hoegeng secara mendalam, karena ini bisa teman-teman temukan dalam sumber lain. Yang menjadi sorotan bagi saya adalah bagaimana cara beliau menegur pelanggar aturan.

Terlebih, hari ini kita semua dihadapi dengan situasi dan kondisi yang rumit. Sebagaimana disinggung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kebijakan penanganan pandemi saat ini seolah tak berpihak pada masyarakat kelas menengah ke bawah.

Bukan hal tabu lagi bagi kita, edaran video penertiban yang kurang humanis dan disertai dengan sikap arogan. Menjadi problematika tersendiri bagi khalayak, tak ingin mati kelaparan, pun takut dihadapi dengan penertiban seperti itu.

Hingga muncul beberapa sindiran pedas dari netizen “Ini mah bukan mati karena virus, tapi mati karena kelaperan.” Ya kurang lebih begitulah sindiran pedas dari netizen yang sering saya jumpai di kolom komentar.

Penertiban yang diharap mampu menjadi pemutus mata rantai virus, malah akhirnya menjadi masalah baru lagi. Belum lagi sumber mata pencaharian mereka yang disita.

Mungkin kita sudah tidak asing dengan celetukan “Saya Satpol” yang viral di sosial media, yang kemudian dijadikan gurauan oleh orang banyak.

Selanjutnya akan kita sebut para pelaku ini dengan sebutan ‘oknum’ karena tidak semua orang yang berada pada profesi itu bertindak semena-mena dengan sikap arogan. Tindakan oknum inilah yang lantas mencoreng nama baik sebuah profesi.

Saya percaya, pastinya didikan mereka tidak main-main baiknya. Hanya saja, banyak orang yang lupa akan sopan santun setelah mendapatkan apa yang mereka kejar.

Seragam yang dikenakan seolah menyongsong ‘oknum’ menjadi manusia yang paling tinggi, seolah merasa paling bisa. Tapi mereka lupa, bahwa seragam hanya sekedar pakaian. Dan yang membuat kedudukannya tinggi di mata orang lain adalah cara mereka memperlakukan orang lain.

Itulah mengapa dalam Islam, adab lebih diutamakan daripada ilmu. Orang beradab kedudukannya pun lebih tinggi daripada orang yang berilmu. Hingga muncul sebuah pernyataan “orang yang berpendidikan, belum tentu terdidik.”

Dan itu benar…

Banyak orang yang mengaku berpendidikan, tapi pada realitanya hanya sebatas gelar. Pendidikan yang harusnya mencetak karakter individu untuk lebih peka, justru yang terjadi malah sebaliknya.

Ya begitulah potret yang ada, pangkat dan kedudukan seolah menjadi kuasa untuk bertindak semena-mena. Tidak, ini tidak dilakukan oleh semua orang berpangkat, hanya dilakukan oleh oknum-oknum saja.

Namun, di samping sisi negatif ini, ada juga beberapa tindakan yang membuat warga sosial media terharu.Ya, tindakan seorang aparat negara yang memborong dagangan seorang penjual. Harusnya, cara seperti inilah yang digunakan, agar tak mencekik perekonomian mereka.

Jangan gunakan arogansi, sebab arogansi bukanlah sebuah solusi. Alih-alih menertibkan, malah dapat sanksi sosial dari masyarakat.

Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan nada tinggi, buatlah orang lain segan karena ditegur dengan bijak.

Jangan kikis rasa kemanusiaan di tengah situasi yang rumit, jangan cekik mereka di situasi yang pelik. Mereka hanya mencoba menyambung hidup, bukan mencuri uang negara.

Semangat terus untuk orang-orang baik yang tetap mengedepankan rasa kemanusiaan 🙂

Semoga pandemi lekas berlalu, dan perekonomian lekas pulih 🙂

Continue Reading

Kritik

Pola Asuh adalah Faktor Penentu

Published

on

Oleh: Yunda Irat Suirat, Kabid Infokom HMI MPO Cabang Serang

Apa yang terpikir dalam benakmu jika membaca atau mendengar kata pola asuh?

Ya benar pola asuh sangat memengaruhi tumbuh kembang seorang anak. Di mana pola asuh dapat menentukan karakter anak.

Tapi di sini kita tidak akan membahas mengenai pola asuh orang tua terhadap anaknya. Kita coba bahas permasalahan makro di Indonesia.

Lagi lagi ini perihal Covid-19, penanganan pemerintah dan sikap masyarakat dalam menghadapi pandemi ini.

Corona Virus Disease mulai dikenal oleh dunia setelah ditemukannya banyak korban di Wuhan, China pada Desember 2019. Sejak saat itu, kasus Covid-19 mulai terdeteksi di berbagai negara di dunia, yang kemudian Indonesia juga termasuk di dalamnya.

Sebagian masyarakat dari berbagai kalangan sudah mengingatkan, agar pemerintah segera mengambil keputusan ataupun kebijakan untuk mengantisipasi virus tersebut. Namun, masihkah ingat bagaimana reaksi pemerintah Indonesia dalam menanggapi pemberitaan tersebut?

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh Perupadata dan dilansir dari Desk Research, menyebutkan bahwa pada tanggal 17 Januari 2020, meskipun sudah mendapatkan peringatan dari berbagai pihak, Presiden menegaskan bahwa Covid-19 tidak terdeteksi di Indonesia.

Penegasan tersebut mungkin adalah sebuah bentuk pengendalian pemerintah pusat terhadap kekhawatiran yang sedang melanda rakyatnya.

Lalu disusul oleh pernyataan Menteri Kesehatan saat itu, yaitu Bapak Terawan mengatakan agar masyarakat enjoy aja, makan yang cukup. Lagi-lagi mungkin beliau sedang menina-bobokan masyarakat agar tidak menanggapi Covid-19 dengan panik.

Kemudian pada tanggal 7 Februari 2020, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD dengan bangganya mengatakan bahwa Indonesia adalah satu-satunya Negara yang tidak terkena Corona.

Pada bulan Februari banyak sekali mereka yang memberikan pernyataan yang seolah-olah memperolok Corona, mulai dari Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Panjaitan “Corona masuk Batam? Mobil?” ujarnya.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, “Karena perijinan di Indonesia berbelit-belit maka virus Corona tidak bisa masuk” tuturnya.

Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi, mengatakan “Kita kebal Corona karena doyan makan nasi kucing” katanya.

Semua pernyataan para elit politik tersebut benar-benar dilakukan untuk menenangkan masyarakat, agar tidak terlalu mengkhawatirkan Covid-19 yang menurut mereka mustahil masuk ke Indonesia, Pemerintah sedang memainkan “Seni mempertahankan imun.” Hal tersebut terbukti dengan digelarnya promo wisata dan buzzer medsos ‘Tangkal Ketakutan terhadap Covid-19’, yang didanai langsung oleh Presiden senilai 72M pada tanggal 26 Februari 2020.

Padahal, pada tanggal 11 Februari 2020 penelitian Harvard telah memberikan peringatan dengan mengatakan “Corona seharusnya sudah masuk RI” namun peringatan tersebut ditentang olah Menkes dan meminta untuk dibuktikan.

Namun, akhirnya pada tanggal 2 Maret 2020 saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun.

Maka dari situ, terpatahkanlah pernyataan olokan dari para elit politik tersebut. Dengan adanya kasus terkonfirmasi maka pemerintah menetapkan, Covid-19 sebagai bencana nasional pada tanggal 14 Maret 2020. Bahkan, sehari setelah penetapan bencana nasional tersebut Menhub RI pun terkonfirmasi Covid-19.

Mulai saat itu, sedikit demi sedikit kasus terkonfirmasi Covid-19 semakin menumpuk, namun presiden tetap bersikukuh untuk tidak melakukan lockdown, dan menolak rencana tes Covid-19 yang akan dilakukan terhadap anggota DPR dan keluarga.

Dengan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, menimbulkan kekhawatiran pada pemerintah daerah. Salah satunya adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang mengajukan permohonana karantina wilayah, pada 31 Maret 2020.

Bahkan dalam keadaan Indonesia yang semakin hari semakin bertambah kasus Covid-19, pemerintah masih terlihat seperti sedang bercanda pada bencana nasional tersebut. Masih adanya perbedaan pendapat antara satu dengan yang lainnya. Di mana Jubir Presiden, mengatakan “Mudik tidak dilarang, wajib isolasi mandiri selama 14 hari” yang kemudian di hari yang sama diralat oleh Mensesneg RI yang mengatakan “Yang benar adalah pemerintah mengajak dan berupaya keras agar masyarakat tidak perlu mudik.” Dan yang mengejutkan adalah Wakil Presiden RI mendorong MUI untuk mengeluarkan Fatwa “Mudik Haram”

Sejak awal beredarnya informasi mengenai Covid-19, pemerintah tidak begitu serius menanggapinya. Bahkan seperti yang dijabarkan di atas bahwa pemerintah seperti menyepelekannya. Mulai dari Presiden sampai dengan para menterinya.

Lalu, saat Covid-19 tidak terkendali meskipun sudah diberlakukan berbagai kebijakan. Tak sedikit pernyataan dari pemerintah yang menyalahkan masyarakat. Menurut mereka masyarakat terlalu menyepelekan Covid-19 dengan tidak terlalu mengindahkan berbagai kebijakan yang telah diberlakukan, mulai dari PSBB, Lockdown, dan PPKM.

“Pola asuh adalah faktor utama dalam menentukan tumbuh kembang anak”

Hal ini pun berlaku pada sebuah negara, bagaimana pemerintah pusat (orang tua) bertindak maka itu akan menjadi tolak ukur perbuatan masyarakatnya (anak).

“Jika masyarakat itu berpikir, mereka tidak akan melanggarnya dong, kan ini dilakukan demi kebaikan mereka.”

Iya memang benar, banyak sekali masyarakat Indonesia yang berpikir dan berwawasan luas, sehingga mereka akan melakukan sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini.

Tapi tidak sedikit juga masyarakat yang tidak bisa benar-benar mematuhi anjuran untuk di rumah saja. Mereka yang berpenghasilan tak seberapa, yang “Hasil kerja hari ini adalah untuk mencukupi kebutuhan hari ini. Untuk makan besok, akan dicari besok!” yang apabila mereka tidak bekerja hari ini maka hari ini mereka tidak akan makan.

Mereka yang “kucing-kucingan” dalam melanggar kebijakan tersebut, apabila terbukti melanggar akan dikenai sanksi yang cukup serius yang menyebabkan banyak hal.

Mereka tidak diam di rumah karena ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, dan ada kehidupan yang harus dipertahankan.

Hal tersebut juga bisa jadi karena terpengaruh oleh pernyataan-pernyataan yang terlebih dahulu yang dikeluarkan oleh orang tuanya, yang terkesan menyepelekan Covid-19. Tapi yang mereka lakukan bukanlah sekedar menganggap gampang Covid-19, tetapi juga memainkan “Seni untuk mempertahankan hidup.”

Bersambung…..

Continue Reading

Literatur

Al-Qur’an: Pedoman Hidup Manusia

Published

on

Oleh: Kanda Ridho Aji Pangestu, Anggota Bidang Jaringan dan Relasi

Pasti kita sudah mengetahui bahwa kitab suci umat muslim adalah Al-Qur’an, akan tetapi masih banyak dari kita yang tidak memahami dan mengetahui apa saja isi dan kandungan yang ada di dalam kitabullah tersebut. Kebanyakan manusia hanya menduga-duga saja akan isi dan kandungan yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami kitab, kecuali hanya berangan-angan dan menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah : 78)

Dari ayat tersebut sudah jelas disebutkan bahwa banyak di antara mereka (maksud mereka disini adalah orang muslim dan muslimah) ada yang buta huruf dan tidak memahami kitab. Banyak di antara kaum muslimin yang hanya bisa membacanya saja, tidak memahami kandungan yang ada di dalam Al-Qur’an. Banyak juga di antara kaum muslimin yang tidak dapat membaca kitabnya sendiri, melainkan hanya mengakui bahwa kitab umat Islam adalah Al-Qur’an. Ketika ada seseorang yang melecehkan Al-Qur’an seluruh umat muslim pasti marah, akan tetapi ketika ditanya apa yang mereka dapatkan ketika membaca Al-Qur’an? Hanya sedikit orang saja yang dapat menjawab.

Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya kami menurunkan berupa Al-Qur’an dalam bahasa arab, agar kamu mengerti.”
(QS. Yusuf: 2)

Ayat ini menjelaskan lagi bahwa Allah Swt. menginginkan hamba-Nya untuk mengerti akan apa yang ada di dalam Al-Qur’an, bukan hanya menghafal, membaca atau hanya mengakuinya saja. Tapi pada kenyataannya di dalam masyarakat kita masih sedikit sekali kaum muslimin yang mau mengkaji dan memahami isi dari Al-Qur’an itu sendiri. Padahal, di dalam Al-Qur’an semua aspek-aspek kehidupan sudah di jelaskan secara detail di dalam Al-Qur’an, baik kehidupan di dunia sampai kehidupan setelah kehidupan di dunia. Akan tetapi, umat muslim hanya mengakui bahwa pendapat tersebut benar, tanpa menjalankan apa yang di perintahkan Allah untuk memahami apa yang ada di dalam Al-Qur’an.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah kami berikan ayat-ayat kami kepadanya, kemudian dia melepas diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah mereka orang yang sesat.” (QS. Al-A’raf: 175)

Sudah jelas bahwa Allah menyuruh hamba-Nya untuk memahami ayat-ayat yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dan apabila kalian tergoda oleh setan untuk melepaskan diri dari ayat-ayat Al-Qur’an, maka jadilah kalian orang-orang yang sesat. Ketika kita hanya mengakui Al-Qur’an saja tidak membaca dan memahami kandungan dari Al-Qur’an, kita sudah termasuk orang-orang yang melepas diri dari Al-Qur’an. Lebih mementingkan bekerja dari pada memahami Al-Qur’an, yang mementingkan bermain dari pada memahami Al-Qur’an. Mungkin memang lebih menyenangkan bermain dan bekerja daripada memahami Al-Qur’an.

Tapi sadarkah kalian bahwa kalian sudah masuk ke dalam perangkap setan untuk menjauhkan umat muslim dari kitabnya yaitu Al-Qur’an. Pasti terasa berat untuk kita yang sudah terperangkap perangkap setan untuk bergerak melawan dan mulai membaca dan memahami Al-Qur’an. Kita sudah terbiasa dengan kehidupan yang jauh dari Al-Qur’an, kita sudah merasa pintar untuk menjalani kehidupan, dan seolah olah sudah tidak membutuhkan petunjuk-petunjuk Allah lagi.

Sadarkah kita bahwasanya siapa yang menciptakan kalian? Sadarkah kita siapa yang menciptakan langit dan bumi? Sadarkah kita siapa yang menciptakan siang dan malam? Allah  lah yang menciptakan itu semua, Allah tidak hanya menciptakan manusia, langit, dan bumi begitu saja. Melainkan Allah juga meciptakan Al-Qur’an sebagai pedoman umat manusia untuk dapat menjalani kehidupan di dunia dengan baik dan tidak menyimpang dari apa-apa yang di perintahkan Sang Pencipta.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan sekiranya kami menghendaki niscaya kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya, jika kamu membiarkannya menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf :176)

Dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah akan meninggikan derajat manusia bagi mereka yang memahami dan mengaplikasikan ayat-ayat Al-Qur’an. Akan tetapi manusia lebih mementingkan dunianya daripada beribadah kepada Allah dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Manusia lebih mengedepankan hawa nafsunya untuk sukses di dalam dunianya daripada menjalankan perintah Allah untuk beribadah dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Maka dalam ayat ini Allah umpamakan mereka sebagai seekor anjing.

Ketika kita membiarkan anjing tersebut, anjing itu tetap menjulurkan lidahnya. Dan ketika anjing itu kita pelihara, anjing itu juga tetap menjulurkan lidahnya. Maksud dari perumpamaan tersebut sama saja dengan keadaan manusia saat ini, mau kita biarkan ataupun kita nasehati  untuk menjauhi dunia dan mengedepankan beribadah kepada Allah dan memahami ayat-ayat Allah, akan tetapi manusia tersebut membangkang, dan tetap lebih mementingkan hawa nafsunya untuk menguasai dunia. Padahal pada hakikatnya Allah menciptakan dunia itu tidak lain adalah hanya sebatas sarana manusia untuk beribadah kepada-Nya. Maka perumpamaan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Dan ceritakanlah kisah tersebut supaya dijadikan pelajaran bagi mereka agar mereka berfikir dan tidak mengulanginya lagi.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan sungguh, akan kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi, merekalah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf :179).

Dalam ayat ini Allah juga memberi perumpamaan manusia seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat dari hewan ternak. Yaitu orang-orang yang memiliki hati akan tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, hati mereka sudah keras dan sudah dikuasai oleh setan sehingga tidak ada kemauan untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Lalu mereka memiliki mata akan tetapi tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Mata mereka seperti dibutakan oleh dunia dan merasa bahwa mereka adalah penguasa dan tidak ada yang bisa melebihinya, padahal dia lupa bahwa masih ada Allah yang maha kuasa. Dan mereka memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Merekalah orang-orang yang lengah,  yang sudah terjerumus ke dalam perangkap setan, maka untuknya Neraka Jahanam.

Untuk itu mulai detik ini mari kita ubah kebiasaan yang selalu mengagung-agungkan dunia yang selalu disibukkan oleh perkara dunia, yang secara tidak langsung sudah di jadikan budak setan karena sudah mematuhi mereka untuk menjauhkan kita dari ayat-ayat Allah

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dia (Allah) ingin menjadikan godaan yang ditimbulkan setan sebagai cobaan bagi orang yang dalam hatinya ada penyakit dan orang yang berhati keras. Dan orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan  yang jauh.” (QS. Al-Hajj : 53)

Sudah menjadi kodratnya bahwasanya Allah menciptakan setan untuk menggoda manusia yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan orang-orang yang keras hatinya. Akan tetapi untuk menjadi orang-orang yang beriman yang menaati perintah Allah dan rasul kita harus bisa melawan godaan-godaan setan dengan cara bertaubat kepada Allah sebenar-benarnya taubat, yang demikian itu dapat menghilangkan penyakit hati dan keras hati. Lalu belajarlah mencintai Al-Qur’an dan memahami apa saja kandungan-kandungan yang terdapat pada ayat-ayat Allah supaya kita diberikan hidayah dan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik yang sesuai dengan perintah Allah. Karena ilmu adalah jembatan untuk mendapatkan hidayah dan naungan Allah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa (Al-Qur’an) itu benar dari tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj: 54)

Dari surat Al-Hajj ayat 54 sudah dijelaskan bahwa ketika kita sudah memiliki ilmu, ilmu di sini ditujukan bukan pada ilmu duniawi akan tetapi ilmu memahami Al-Qur’an, dan menyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tersebut adalah benar. Ketika kita sudah menyakini bahwa ayat Al-Qur’an adalah benar, lalu kita taat pada ayat-ayat Al-Qur’an yang kita yakini, dengan mengamalkan ayat-ayat tersebut ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Maka yang demikian itu yang membuat iman kita bertambah setelah kita mengamalkan ayat-ayat tersebut. Maka di situlah terdapat hidayah dan petunjuk Allah bagi hamba-hambanya yang beriman.

Continue Reading

Lagi Trending