Inilah Kanda-ku

Wawancara Ekslusif Dengan Teman Sekamar Ubedilah Badrun: Dari Pribadi hingga Romantisme Saat Aksi Reformasi

Published

on

Ubedilah Badrun

Suarahimpunan.com – Nama Ubedilah Badrun akhir-akhir ini mendadak ramai diperbincangkan di jagat dunia maya. Hal itu setelah dirinya melaporkan dua anak Presiden RI Joko Widodo, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep soal dugaan KKN.

Keduanya oleh Ubedilah Badrun, disebut-sebut punya relasi bisnis dengan grup bisnis yang terlibat pembakaran hutan.

Sebenarnya nama Ubedilah yang kerap disapa Bang Ubed ini, bukan nama yang asing bagi kader-kader HMI MPO. Sepak terjangnya mungkin sudah kerap diceritakan oleh para senior-senior HMI MPO, kepada para juniornya.

Kru LAPMI Serang pun mencoba mengulik untold story Kanda Ubed, dari teman sekamarnya yang juga merupakan senior dari HMI MPO Cabang Serang, Kanda Dail Ma’ruf.

Saat ditemui, Kanda Dail sangat bersemangat untuk menceritakan kisah-kisah Kanda Ubed yang selain merupakan Ketua Umum HMI MPO Cabang Jakarta, juga merupakan seorang Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi atau yang saat ini disebut Presiden Mahasiswa.

“Tampilannya sangat alim. Setiap ngobrol dengan perempuan selalu menundukan pandangan, orangnya sangat ganteng luar biasa dan banyak orang-orang yang ingin menjadi aktivis supaya bisa ada kesempatan untuk rapat dan curi-curi pandangan dengannya,” ujar Kanda Dail dalam pembukaan ceritanya.

Kanda Dail Ma’ruf bersama dengan Kru LAPMI Serang Raya, Aldo Aldiyansah.

Berikut rangkuman wawancara Kru LAPMI Serang Raya dengan Kanda Dail Ma’ruf mengenai sosok Ubedilah Badrun

Bagaimana sosok Kanda Ubed pada saat waktu itu masih menjadi mahasiswa?

Memang Ubed itu seorang aktivis yang sangat religius. Saya melihat dan menyaksikan sendiri puasa Senin-Kamis dia itu tidak pernah ditinggal. Kemudian dhuha, tahajud juga tidak pernah lewat. Dan yang menarik juga tadarus Al-Quran selalu setiap ba’da magrib sampai Isya itu tembus satu Juz. Mungkin itulah yang menguatkan spiritualitas dia dan intelektualitas dia.

Ia banyak sekali membeli buku-buku setiap bulan. Kalaupun memang dia tidak punya uang, yang menarik adalah ia datang ke toko buku terbesar di Jakarta Timur, Gramedia. Dia jalan kaki nyebrang jembatan penyeberangan. Dia baca buku gratis di sana, yang bagus-bagus banyak.

Kadang Ubed Sabtu-Minggu seharian di sana, dari jam sebelas pulang-pulang Maghrib. Dan itu buahnya mengapa Ubed menjadi sangat kuat pemikiran dan gagasannya di bidang yang ia geluti, terutama di pendidikan, kemudian politik, Keislaman dan lain-lain.

Halaman SebelumnyaHalaman 1 dari 3 Halaman

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagi Trending