Tentang Rasa

Melapangkan Lahan Parkir untuk Pengembaraan Hati

Published

on

Oleh: Kanda Ega Mahendra, Mide Cabang Serang Dalam hal ini banyak yang belum memahami terkait peluasan lahan yang akan terus dikunjungi oleh tamu-tamu di kehidupan kita. Apakah teman-teman tahu siapakah tamu kehidupan kita itu? Tamu kehidupan kita yang terus berkunjung di dalam kehidupan kita adalah senang, sedih, marah, sabar, gembira, kegelisahan, ketakutan, galau, dan lain-lain. Dan itu secara mutlak akan silih berganti berdatangan setiap hari dalam kehidupan kita. Pertanyaannya adalah apakah kita siap menerima tamu kehidupan itu? Bisakah kita bersahabat dengan mereka? Bisakah kita mengendalikan mereka? Terimalah dan biarkan mereka berkunjung ke hati kita, sambutlah dengan baik, biarkan mereka bercerita kepada kita dan setelah kita mendengarkan apa yang tamu kita sampaikan, maka mintalah tamu kita segera pulang, jangan biarkan tamu kita bersemayam lama di hati kita.
Baca Juga:  Chating Berujung Ghosting
Ketika tamu sedih datang, kita harus menyambutnya dengan baik, biarkan tamu sedih bercerita dan setelah kita mendengarkan ceritanya, maka mintalah tamu sedih kita pulang, jangan terlalu lama bersemayam dalam hati, karena tamu kehidupan yang lain telah mengantri di belakang kita untuk bercerita. Tamu senang, tertawa, dan lain-lain ingin juga berkunjung di hati kita. Kenapa mereka tidak datang? Karena kita tidak mengusir tamu yang sedang berkunjung di hati kita saat ini, yang membuat tamu–tamu kehidupan kita yang lain harus menunggunya.
Baca Juga:  Rungsing
Maka dari itu melapangkan lahan yang dimaksud adalah pengembaraan ‘hati’ untuk menerima tamu kehidupan kita dengan senang hati. Hati yang luas akan membawa kita kepada penerimaan keadaan.
Halaman SebelumnyaHalaman 1 dari 2 Halaman

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Lagi Trending