Fenomena menjamurnya e-Commerce hari ini merupakan salah satu contoh disrupsi, sehingga pengaturan pola pikir yang mutlak menjadi sangat dibutuhkan oleh generasi muda sekarang agar bisa menghadapi perubahan dalam era revolusi industri 4.0.
“Kita akan menghadapi era disrupsi dengan segala kemajuan dan problematika yang dilalui. Di zaman yang telah berubah ini, beragam masalah dan kekhawatiran menimbulkan banyak pertanyaan di benak kita,” tutur Eko.
Di tahun 2045, ketika Indonesia genap berusia 100 tahun yang merupakan masa bagi para generasi muda untuk menjadi pemeran utama.
“Keberadaan revolusi industri 4.0 mewajibkan kita untuk menyiapkan modal kemampuan sebagai solusi untuk bertahan hidup,” tambahnya.
Modal awal untuk untuk menghadapi era disrupsi ini adalah dengan cara meningkatkan keterampilan kemudian berkolaborasi antar masyarakat.
Menurut Eko, generasi muda Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam persaingan global, terutama di bidang ekonomi.
“Dalam era ini kita dituntut untuk selalu aktif, kreatif, dan inovatif yang mana dapat dicapai dengan revolusi mental. Generasi muda sebagai pelaku utama di revolusi industri 4.0 menjadi pemegang kunci aktivitas ekonomi Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi dan kemajuan teknologi,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa bonus demografi yang digadang-gadang akan membuat Indonesia mampu bertransformasi menjadi negara maju juga menyimpan berbagai ancaman.
Maka dari itu, menurut Eko, “Saat ini kita harus memulai dari hal kecil seperti berwirausaha UMKM, berinovasi mengembangkan minat dan bakat kita,” terangnya.
(RRN)


Komentar