Literatur
Beranda » Belajar dari “Overthinking”-nya Nabi Muhammad ﷺ Hikmah Ramadan untuk Hati yang Gelisah

Belajar dari “Overthinking”-nya Nabi Muhammad ﷺ Hikmah Ramadan untuk Hati yang Gelisah

Written by Ikmal Anshary

Pernah tidak kita merasa cemas berlebihan? Pikiran berputar-putar, mempertanyakan diri sendiri, bahkan mempertanyakan keadaan yang sedang Allah takdirkan? Dalam istilah hari ini, mungkin kita menyebutnya overthinking.

Lalu terlintas pertanyaan: jika Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, apakah beliau pernah merasakan kegelisahan yang dalam? Bagaimana cara beliau menyikapinya?

The Great Silence: Saat Wahyu Terhenti

Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira dan merasakan pengalaman luar biasa berjumpa dengan Malaikat Jibril, Rasulullah ﷺ tentu berada dalam kondisi spiritual yang sangat tinggi. Namun kemudian terjadi masa yang dikenal sebagai fatrah al-wahy—terhentinya wahyu.

Social Approval Dependence: Penyakit Sunyi di Bulan Suci

Riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa wahyu tidak turun selama kurang lebih 25 hari. Bayangkan, setelah merasakan kedekatan yang begitu kuat dengan Allah, tiba-tiba suasana menjadi hening. Tidak ada lagi wahyu. Tidak ada lagi suara langit. Kesunyian itu bukan hanya sepi, tapi menguji jiwa.

Cibiran dan Tekanan Sosial

Di tengah masa hening tersebut, kaum Quraisy memanfaatkan situasi. Istri Abu Lahab bahkan mengejek,

“Wahai Muhammad, aku benar-benar berharap setanmu telah meninggalkanmu.”

(Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Muhamad Ahyar Menuju Pekanbaru: Anatomi Pencalonan dan Harapan Spritual Kongres XXXIV HMI

Cibiran itu sampai ke telinga Nabi ﷺ. Tekanan sosial, ejekan publik, dan tuduhan keji—semuanya datang bersamaan dengan kekosongan wahyu.

Di titik inilah sisi manusiawi Rasulullah ﷺ tampak. Bukan dalam arti kelemahan, tetapi dalam arti kejujuran rasa. Ada kegelisahan. Ada pertanyaan di dalam hati:

Apakah Allah meninggalkanku?

Apakah Allah tidak lagi ridha kepadaku?

Apakah aku tidak layak?

Biopori: Teknologi Ajaib Pengolah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Organik

Inilah puncak kecemasan seorang hamba yang sangat mencintai Tuhannya.

Jawaban Langit: Surah Adh-Dhuha

Di tengah kecamuk itu, Allah menurunkan Surah Adh-Dhuha sebagai pelipur lara dan penyembuh jiwa:

“Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”

Betapa lembut cara Allah menenangkan Nabi-Nya. Allah memulai dengan sumpah atas waktu dhuha (terang) dan malam yang sunyi (gelap). Seakan Allah berkata: Hidup memang memiliki siklus. Ada masa terang penuh semangat, ada masa gelap penuh kesunyian. Keduanya adalah bagian dari ketetapan-Ku.

Lalu Allah menegaskan:

“Maa wadda’aka rabbuka wa maa qalaa.”

Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.

Ini jawaban langsung atas overthinking Rasulullah ﷺ. Bukan hanya menenangkan, tapi juga memulihkan harga diri, menguatkan kembali misi, dan menegaskan cinta Allah yang tidak pernah putus.

Hikmah Ramadan: Saat Hati Kita Merasa Sunyi

Ramadan sering kita bayangkan sebagai bulan yang penuh semangat ibadah. Namun tidak jarang, justru di bulan ini kita merasa:

 Ibadah terasa biasa saja

Hati tidak sehangat yang diharapkan

Doa terasa belum dikabulkan

Masalah hidup tetap datang silih berganti

Kadang kita bertanya dalam diam:

“Apakah Allah jauh dariku?”

“Apakah ibadahku tidak diterima?”

Belajar dari kisah Rasulullah ﷺ, kita memahami bahwa masa sunyi bukan tanda kebencian Allah. Fase gelap bukan berarti ditinggalkan. Bisa jadi itu fase pembentukan, pendewasaan, dan penguatan iman. Ramadan mengajarkan kita untuk tidak buru-buru menyimpulkan takdir. Jika Nabi saja pernah merasakan masa hening, apalagi kita.

Cara “Menyembuhkan” Overthinking ala Langit

Dari Surah Adh-Dhuha, kita belajar tiga hal:

1. Terima bahwa hidup punya siklus.

Tidak setiap hari harus penuh semangat. Ada masa naik dan ada masa turun.

2. Jangan mengaitkan ujian dengan kebencian Allah.

Ujian bukan tanda Allah membenci, tapi bisa jadi tanda Allah sedang menyiapkan level yang lebih tinggi.

3. Ingat nikmat masa lalu dan harapan masa depan.

Dalam lanjutan surah, Allah mengingatkan Nabi tentang pertolongan-pertolongan sebelumnya. Artinya, ketika gelisah, ingatlah jejak rahmat Allah dalam hidup kita.

Ramadan, Waktu Berdamai dengan Diri

Jika hari ini kita sedang overthinking, merasa tidak cukup baik, merasa tertinggal dalam ibadah, atau merasa jauh dari Allah—ingatlah satu ayat ini:

Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.

Ramadan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan penyembuhan jiwa. Bulan untuk kembali percaya bahwa Allah selalu dekat, bahkan ketika langit terasa sunyi. Semoga di Ramadan ini, kita belajar bukan hanya memperbanyak amal, tetapi juga memperbaiki cara kita memandang takdir. Karena kadang, yang perlu disembuhkan bukan keadaan kita melainkan cara kita memahami cinta Allah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *