Membangun jejaring untuk menguatkan solidaritas memang penting, termasuk kepada senior yang telah memiliki jabatan. Tapi akan menjadi satu tindakan disorientasi pada kader ketika harus berkompromi dengan pola kekuasaan yang dianggap menindas dan melahirkan kesenjangan sosial. Apalagi jika hal demikian tidak terbaca sebagai satu masalah karena tertutupi oleh lidah senior atau alumni, hal ini berimplikasi pada krisisnya eksistensi HMI pada rana sosial dan mengabaikan satu sistem nilai yang telah dijaga selama ini. Seharusnya kader dan alumni menegaskan keberpihakannya terhadap rakyat banyak sesuai yang diajarkan oleh manhaj ‘Gerakan’. Jendral Sudirman pernah mengemukakan bahwa “HMI bukan sekedar Himpunan Mahasiswa Islam tetapi juga Harapan masyarakat Indonesia” jika disorientasi itu terjadi maka HMI tak ubahnya sebagai Himpunan Mahasiswa Istana.
Serangkaian keadaan ini menggambarkan posisi dan peran strategis HMI perlu dibenahi. Pada ruang sosial, HMI harus mampu mengimbangi sofistikasi kuasa dalam memainkan instrumen kebijakan. Bukan justru terjebak dalam pola kolosal dimainkan oleh kekuasaan melalui alumni atau senior yang tidak memikirkan organisasi wajib terlibat dalam membangun peradaban. HMI harus mampu keluar dari konflik internal kepengurusan yang tidak produktif secara keseluruhan. Saat ini ada banyak gerakan mahasiswa yang tumbuh sekedar menghimpun basis massa namun pertumbuhan gerakan itu tidak memberikan dampak yang efektif untuk sebuah perubahan, argumentasi Foucolt tentang relasi kuasa belakangan ini cukup terasa saat adanya disorientasi gerakan kelompok intelektual atau kelompok sosial. Maka seluruh sikap benar-benar lahir dari rahim suci pikiran HMI, bukan sekedar menjalankan petunjuk senior, mendekatkan diri pada kekuasaan, apalagi sekedar takut tak dapat bagian APBD atau APBN untuk menyukseskan kegiatan ceremonial semata.
Pada usia 75 Tahun HMI hari ini, saya meyakini masih ada kesempatan untuk berbenah, merevitaslisasi kembali nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang diajarkan oleh Khittah Perjuangan. HMI harus mendorong seluruh kadernya agar sampai pada titik kesadaran organik seperti yang dikemukakan Emil Durkheim. Sebuah kesadaran yang berpotensi meghadirkan perubahan sosial karena pengulturasiannya yang lebih bersifat mendalam. Mengedepankan kepentingan rakyat sebagai kepentingan utama dan mengangkat martabat organisasi sebagai organisasi yang independen dan memiliki pendirian yang terukur. Saya masih meyakini bahwa HMI tetaplah menjadi anak kandung rakyat sepanjang masih berdiri di atas tujuan HMI sejak awal didirikannya. Selamat Milad HMI ke 75 Tahun. Yakin Usaha Sampai.


Komentar