Literatur
Beranda » Quo Vadis Gerakan Mahasiswa di era Melenial?

Quo Vadis Gerakan Mahasiswa di era Melenial?

Oleh: Kanda Nasrun Sibela, Kader HMI Cabang Makassar

Dahulu pada era tahun 1908 – 1998 mahasiswa memiliki peran vital dalam melakukan revolusi di negeri ini. Dengan spirit persatuan dan jiwa muda yang inheren pada diri mereka, serta ditambah dengan kemampuan intelektualitas yang sangat mumpuni, membuat mahasiswa tetap konsisten dalam melakukan perjuangan dalam mewujudkan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), nantinya dari negara ini kemudian diharapkan mampu terbentuk sebuah pemerintah yang ideal yakni pemerintah demokrasi. Sebuah model dan mekanisme pemerintah yang sangat diyakini dapat menghantarkan rakyat indonesia ke tatanan masyarakat yang adil dan makmur.

Mahasiswa dikala itu, tak pernah tertarik pada godaan-rayuan bangsa kolonial dan para penghianat, termasuk penguasa ataupun politisi yang berselimutkan atas nama kepentingan rakyat agar menjadi kacung-kacung mereka. Mereka juga tidak pernah tergiur pada kenikmatan-kenikmatan sesaat alias tidak pragmatis. Mahasiswa pada masa lalu, mereka dikenal sebagai orang sangat ideologis.

Bila ada kebijakan penguasa yang zalim serta menghianati amat konstitusi negara, maka dapat dipastikan bahwa mahasiswa adalah orang pertama menyatakan sikap konfrontasi kepada penguasa tersebut, lalu melakukan aksi protes besar-besaran di berbagai tempat atas adanya kebijakan yang merugikan rakyat. Mereka tidak tanggung-tanggung dalam melakukan aksi demonstrasi, hingga tercapainya tujuan dan apa yang menurut mereka adalah sebuah kebenaran.

Mahasiswa masa itu, kerap turun kejalan memimpin rakyat dalam menyampaikan tuntutan mereka, tidak enggan untuk bergaul dan ikut merasakan langsung penderitaan yang dialami oleh rakyat. Gerakan ini muncul dari nurani mereka tanpa ditunggangi oleh individu, kelompok, golongan, ras atau parpol tertentu.

Muhamad Ahyar Menuju Pekanbaru: Anatomi Pencalonan dan Harapan Spritual Kongres XXXIV HMI

Mereka bahkan siap berjuang habis-habisan dan rela menjadi martir dalam melaksanakan agenda revolusioner demi negara dan nasib rakyat. Tak segan-segan dengan siapapun yang berkuasa atau apapun alasan dari penguasa itu bertindak, mereka dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mahasiswa mampu berjuang menjatuhkan rezim diktator dan totaliter yang berkuasa pada saat itu. Perjuangan  Mahasiswa kala itu bukan semata-mata untuk mendapatkan pujian dari orang lain atau untuk pencitraan.

Pada titik kulminasi perjuangan inilah sehingga pelajar dan mahasiswa disematkan dengan three predicates atau tiga predikat yang paling heroik yaitu  sebagai agen of change, agen of analitis dan social of control. Tetapi sangat disayangkan, perjuangan Mahasiswa yang kian masif dan dasyat itu berakhir pada tahun 1998, hanya ada dalam sebuah euforia catatan sejarah bangsa kita. Lantas muncul pertanyaan : Quo vadis gerakan mahasiswa di era melenial? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentulah diperlukan diskursus dan analisis yang basisnya kontekstual.

Kawan-kawan Mahasiswa, mari kita melakukan refleksi terhadap kondisi negara kita tercinta. Saat ini telah di porak-porandakan oleh oknum penguasa yang zalim, serakah dan tidak bertanggungjawab. Mereka berusaha memecah-belah solidatas rakyat dan merusak kehangatan kehidupan berwarga negara. Mereka adalah kelompok ekstrimis penganut paham neoliberalisme, neokolonialisme, komunisme dan kapitalisme yang berinfiltrasi/menyusup ke negara ini.

Bahkan, mayoritas oknum-oknum penguasa itu adalah warga negara indonesia asli yang telah dikader sehingga terkooptasi dengan doktrin dari paham tersebut. Walhasil mereka tidak hanya berusaha untuk memporak-porandakan negara dan merusak keharmonisan/kehangatan berwarga negara tetapi, mereka bertekad merubah ideologi bangsa Indonesia, menjadi ideologi tunggal dan tertutup yang anti terhadap pluralisme kebhinekaan negara kita.

Kawan-kawan Mahasiswa, berangkat dari refleksi terhadap realitas diatas bahwa kondisi negara Indonesia, sekarang sedang menghadapi masalah yang amat krusial. Akankah ada sebuah gerakan sosial yang terorganisir dan masif dipimpin oleh mahasiswa? Sebagaimana yang ada pada tercatat dalam sejarah bangsa kita. Atau, justru kita yang merasa diri sebagai mahasiswa dengan kategori sebagai kaum intelektual, hanya duduk melenga-melongo di kursi empuk dan di gedung bertingkat, serta lengkap dengan segala fasilitas mewah yang disediakan oleh kaum borjuis, dengan bermoduskan pendidikan yang humanis. Padahal tanpa disadari yang demikian itu hanya sebuah kamuflase dari kaum kapitalisme.

Biopori: Teknologi Ajaib Pengolah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Organik

Yudilatif mengatakan bahwa mahasiswa adalah kaum mardika yaitu kaum yang bebas, pembebas dan membebaskan. Kawan-kawan mahasiswa jangan sampai kita yang notabene diharapkan dapat melakukan transformasi terhadap realitas sosial yang timpang saat ini, malah bersikap apatis dan hanya menyaksikan kehancuran bangsa ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *